<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Palanta Veteran 17 PDG</title>
	<atom:link href="http://palantaveteran17.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://palantaveteran17.wordpress.com</link>
	<description>Bialah Baserak di Palanta Kito Batamu</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Dec 2008 10:19:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='palantaveteran17.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Palanta Veteran 17 PDG</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://palantaveteran17.wordpress.com/osd.xml" title="Palanta Veteran 17 PDG" />
	<atom:link rel='hub' href='http://palantaveteran17.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Masa Percobaan yang Tak Pernah Usai</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/masa-percobaan-yang-tak-pernah-usai/</link>
		<comments>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/masa-percobaan-yang-tak-pernah-usai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 09:54:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Palanta Veteran17</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ciloteh Palanta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palantaveteran17.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi wartawan Singgalang bagiku adalah sebuah kebanggaan. Aku masuk Singgalang 1993, tepatnya ketika aku mulai menginjakan kaki di bangku kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang. Sebagai mahasiswa aku dituntut mengekspresi diri dengan menulis, selain itu menulis sudah menjadi hobi dari masa SLTP. Aku masih teringat di masa SLTP itu aku diajari pamanku untuk menulis diary [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=62&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-63" title="maifil3" src="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/12/maifil3.jpg?w=477" alt="maifil3"   />Menjadi wartawan Singgalang bagiku adalah sebuah kebanggaan.  Aku masuk Singgalang 1993, tepatnya ketika aku mulai menginjakan kaki di bangku kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang.  Sebagai mahasiswa aku dituntut mengekspresi diri dengan menulis, selain itu menulis sudah menjadi hobi dari masa SLTP.</p>
<p>Aku masih teringat di masa SLTP itu aku diajari pamanku untuk menulis diary  guna mengevaluasi seluruh kegiatan harian. Dan semasa sekolah di SMA 5 Padang aku aktif dikegiatan mading sekolah dan mencoba menuliskan laporan kegiatan sekolah  untuk DSKS Surat Kabar Mingguan Canang.</p>
<p>Ketika suatu kali aku bertemu dengan bapakku Adi Bermasa &#8211;kupanggil bapak karena beliau dulu pernah sama-sama sekolah PGA  &amp; IAIN bersama dengan ayahku&#8211; , yang kemudian melihat kliping laporan-laporanku di Canang. Waktu itu Pak Adi yang akrab dipanggil Mak Abe itu menjadi Redaktur Pelaksana di Harian Singgalang merekomendasikan aku untuk menulis di Koran Masuk Sekolah (KMS) edisi khusus Singgalang untuk anak-anak sekolah.</p>
<p><span id="more-62"></span><br />
Di KMS aku dikenalkan oleh Pak Adi dengan Ni Luzi Diamanda yang menjadi Redpel KMS dan Bang Eko Yanche Edrie yang waktu itu menjadi koordinator penerbitan KMS. Ni Luzi dan Bang Eko memberikanku pembimbingan menjadi wartawan muda KMS. Selain itu aku berkenalanlah dengan keluarga besar Singgalang umumnya dan penulis-penulis KMS yang akrab kubaca tulisannya seperti Bang Budi Putra.</p>
<p>Keaktiafanku di KMS, membawa aku lebih akrab dengan wartawan senior lainnya di Singgalang. Sebut saja Mak Etek Edi Suardi, yang waktu itu menjadi Redaktur Padang Kota Tercinta. Beliaulah yang awalnya mengajak aku untuk mengisi rubrik Padang Kota Tercinta dengan mengangkat berita-berita dikeluarahan tempat kutinggal. Dari kelurahan perjalanan berita yang diliput sampai ke kecamatan dan akhirnya kota Padang secara keseluruhan.</p>
<p>Mak Etek adalah guru. Ia yang mencoreti dari setiap kalimat yang tidak memenuhi kaedah bahasa. Terkadang laporanku yang sudah diketik dengan WS dan diprint dengan kertas bekas &#8211;tapi sebelahnya masih kosong &#8212; dibuang ke tong sampah oleh Mak Etek. Kata Mak Etek, belum layak, tulis lagi.&#8221;</p>
<p>Mak Etek mengajarkanku tentang ekonomi kata. Menulis kalimat dengan bahasa yang ringkas dan padat. Kepandaian dari Mak Etek ini menjadi modal menulis, membuat  berita dan menulis makalah serta skripsi di bangku kuliah.<br />
Dari mengisi berita di Rubrik yang diasuh Mak Etek, aku juga mulai menulis berita Ekonomi yang diasuh oleh Bang Akmal Darwis. Beliau mengajarkanku menulis features ekonomi. Bang Akmal menyuruhku untuk melihat geliat ekonomi rakyat kecil. Dari mulai tukang sol sepatu, tukang pateri, tukang tambal ban serta pergerakan amai-amai menjual sembako di Pasar Raya Padang. Setiap hari oleh Bang Akmal aku disuruh mengupdate harga Sembako. Di akhir bulan Bang Akmal menyuruhku untuk menulis ringkas tetang inflasi yang bersumber Buku yang diterbitkan BPS, Indonesia dalam Angka.</p>
<p>Begitulah seterusnya menulis di KMS, berita harian untuk berbagai rubrik, dilakoni di Singgalang sambil tetap kuliah.  Karena kekatifanku menulis berita aku diangkat menjadi Reporter Lepas (RL) di Singgalang dengan kode RL.03.</p>
<p>***</p>
<p>Maklum sebagai mahasiswa honor di Singgalang serta merta tidak memenuhi kebutuhan kuliah. Setiap berita ketika itu dihargai Rp1000 per 10 Kredit Poin. Sebagai RL  aku diwajibkan mengumpulkan 300 KP per bulan. Bayaran kuliah dan berbagai keperluan untuk kuliah tidak terpenuhi seratus persen dari bayaran honor yang kuterima. Sebagai tambahan aku tinggal di mesjid dan mengajar mengaji. Jamaah secara bergiliran membawakan nasi untukku dan honor mengajar mengaji menambah biaya kuliah.</p>
<p>Jadwalku sehari-hari menjadi teratur ketika kuliah masuk sore, paginya aku liputan, siang kuliah dan sore berangkat ke Singgalang untuk menuliskan berita. Hampir magrib aku pulang ke Mesjid dan mengajar mengaji sampai Isya. Setelah Isya aku kembali ke Singgalang dan belajar banyak tentang dunia ke wartawanan dan tulis menulis dari senior yang piket malam.</p>
<p>Malam hari di Singgalang aku selalu bersama dengan Bang Gusfen &#8211;yang ketika itu mondok di Singgalang&#8211;  juga menjadi Redaktur Kawasan Suamtera Barat. Beliau pulalah yang sering membantuku memecahkan solusi dari persoalan hidupku sebagai seorang mahasiswa dan seorang wartawan muda di Singgalang. Untuk kelancaranku kuliah dan menjadi wartawan, Bang Gusfen membelikanku sebuah sepeda. Dengan kendaraan inilah aku kuliah dan mengejar berita. Kuliah dan menjadi wartawan melaju seiiring melajunya sepeda kumbang yang kudayung keliling kota Padang.</p>
<p>Satu hal yang ku dapat dari Bang Gusfen ketika itu adalah aku dinasehatinya untuk tidak ikutan keluar malam bersama kawan-kawan yang lain. &#8220;Bialah Abang nan bakubang MEP, angku jaan lai,&#8221; kata Bang Gusfen menasehati ku.  Nasehat itu bagiku adalah nasehat kakak dengan rasa sayang yang tulus dan sangat berharga bagiku yang akan kukenang selamanya.  Terakhir aku bersyukur kepada Allah SWT mendengar Bang Gusfen sudah naik haji.</p>
<p>Selain Bang Gusfen, Mak Etek Edi Suardi juga pernah menyelamatkan uang kuliahku. Ketika jatuh tenggat uang kuliah belum ada dan aku berniat pulang ke kampung. Di lantai empat Mak Etek memberikan amplop gajinya ke padaku untuk menyelamatkan kuliahku itu. Sampai saat ini, jasa Mak Etek disituasi kritis itu masih terngiang di benakku.<br />
Sebagai yang muda di Singgalang waktu itu, para senior yang ada di Singgalang; Basril Djabar, Adi Bermasa, Nasroen Khatib, Syamsoear Syam, Zul Efendi, Widya Navies, Hasril Chaniago, Gusfen Khairul, Luzi Diamanda, Metrizal, Indra Nara Persada, Deni Risman, Akmal Darwis, Budi Putra, Ismet Fanani, Afrimen MN, Mursyid YM Sonsang, Luna Agustin, Tun Akhyar, Hary B Kori&#8217;un, Yosrizal, Richardi Akbar, Sawir Pribadi, Darmansyah, Asraferi Sabri, Muslih Sayan, Rusdi Bais, Evi Endrie, Afrinal Aliman, Ujang Datuak, Edwar DF, Darmijas Madjid, Rosneli, Darlis Sofyan, Erizal Effendi, Dodi Nurdja, Ben Tanur, Replianto, Naswardi, Wardas Tanjung, Susilo Abadi Piliang, Awkar, Yani Nasroen  dll (maaf kalau ada yang lupa)</p>
<p>Ditambah rombongan Balega; Eki Hari Purnama, Marjeni Rockcalva, Atviarni, Herlambang Fadjar, Rina Morita, Elvi Susanti,  Yenita, Yusril Ardanis Sirompak .</p>
<p>Semuanya adalah orang-orang yang berjasa padaku. Baik yang membantu secara materi maupun moril. Hanya Allah SWT saja yang dapat membalas jasa-jasa mereka dengan kebaikan di dunia dan akhirat nanti. Amin!</p>
<p>***</p>
<p>Lama sudah keaktifanku di Singgalang, akhirnya khabar baik datang juga. Melalui usulan Da Zul Efendi yang menjadi Koordinator Liputan waktu itu, akhirnya Da Widya Navies memberikanku sepucuk surat keputusan yang ditandatangani oleh Bapak Darlis Sofyan sebagai Wapemred. Aku diangkat menjadi Sekretaris Operasional Liputan. Aku bertugas menerima dan mengagendakan undangan peliputan dan memintakan approval Korlip Da Zul Efendi untuk menugaskan reporter dan pembantu lepas meliput kegiatan tersebut.</p>
<p>Selain itu aku bertugas menjadi sekretaris malam untuk menerima berita dari daerah dan mengolah rilis-rilis yang masuk menjadi berita singkat. Selain itu bersama bimbingan Budi Putra aku mengupdate Singgalang Online (Singgalang.co.id) yang menjadi cikal bakal bagiku mencintai dunia Teknologi Informasi. Singgalang.co.id merupakan salahsatu Koran daerah pertama yang muncul di alam maya (WordWideWeb) bermodal sambungan Indonet berita Singgalang harian juga terbit secara Online.</p>
<p>Onlinenya Singgalang, menjadi pengobat rindu bagi urang Minang yang ada di rantau dan luar negri. Setiap hari berita-berita Singgalang diperbincangkan oleh rantaunet di Palanta Milist Rantaunet. Bahkan berdasarkan berita Singgalang kabar duka bencana di Sumatera Barat membuat urang Minang di seluruh dunia menyumbang ke kawasan yang kena bencana itu.</p>
<p>Selain itu aku bertugas mengirim faksimili Berita Headline Singgalang ke AnTV setiap malam untuk dibacakan pembaca berita pagi harinya di AnTV waktu itu. Sehingga bagi penonton AnTV di manapun berada dapat mengetahui Headline Singgalang setiap paginya.</p>
<p>Menjadi Sekretaris Operasional Liputan itu, aku diberikan masa percobaan selama tiga bulan. Entah apa alasanya masa percobaan itu diperpanjang dan terus diperpanjang meski tanpa surat perpanjangan. Sampai pada bulan ke Sembilan aku mengirim surat peninjauan SK itu. Tapi dijawab oleh HRD Singgalang Bapak Amirudin SH dengan surat, karena satuhal dan kondisi perusahaan, saya belum bisa diangkat menjadi karyawan tetap.</p>
<p>Sampai akhirnya di tahun 1998, Majalah Ummat di Jakarta memintaku untuk bersedia menjadi Wartawan dan karyawan tetap di Jakarta. Dengan berat hati akhirnya aku pamitan ke Da Basril Djabar ke rumahnya di komplek Pasir Putih. Kata Da Bas menasehatiku, “ mungkin uda indak bisa memberikan apo-apo. Kalau angku ka Jakarta di sinan ado sarugo ado narako, tasarah dek angku nan mamiliah. Pandai-pandailah angku.”</p>
<p>Demikianlah akhirnya Aku meninggalkan Singgalang di tahun 1998 dan bertarung menjadi wartawan di Jakarta dengan membawa segala kenangan yang indah dan masa percobaan yang tidak pernah usai di Singgalang.  Kini di Singgalang sudah berumur 40 tahun, aku mengucapkan Selamat Ulang Tahun, semoga tetap jaya dan benar-benar menjadi media Untuk Kesejahteraan Nusa dan Bangsa sesuai motonya  terutama juga kesejahteraan karyawannya.</p>
<p>Maifil Eka Putra (Wartawan Singgalang (masa Percobaan)  1993-1998)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palantaveteran17.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palantaveteran17.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palantaveteran17.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palantaveteran17.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palantaveteran17.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palantaveteran17.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palantaveteran17.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palantaveteran17.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palantaveteran17.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palantaveteran17.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palantaveteran17.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palantaveteran17.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palantaveteran17.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palantaveteran17.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=62&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/masa-percobaan-yang-tak-pernah-usai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2b598c5bd75a75a519f363983bef961?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Palanta Veteran17padang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/12/maifil3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">maifil3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gusfen : Hasril, Fachrul &amp; Syafrial Adalah ’Rujak Singgalang’</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/gusfen-hasril-fachrul-syafrial-adalah-%e2%80%99rujak-singgalang%e2%80%99/</link>
		<comments>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/gusfen-hasril-fachrul-syafrial-adalah-%e2%80%99rujak-singgalang%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 07:05:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Palanta Veteran17</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ciloteh Palanta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palantaveteran17.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[SAYA menjadi wartawan Harian Singgalang di awal tahun 1986. Waktu itu berstatus KL (baca: koresponden lepas) untuk wilayah Bukittinggi dan Agam. Saya berdomisili di Kota Wisata ini, karena saya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadyah. Di masa itu, Harian Singgalang memiliki perwakilan di Bukittinggi. Ada empat orang wartawan Singgalang yang senior yang mengisi perwakilan. Namanya Nusjirwan Damhoeri, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=57&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-58" title="gusfen" src="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/12/gusfen.jpg?w=70&#038;h=96" alt="gusfen" width="70" height="96" />SAYA menjadi wartawan Harian Singgalang di awal tahun 1986. Waktu itu berstatus KL (baca: koresponden lepas) untuk wilayah Bukittinggi dan Agam. Saya berdomisili di Kota Wisata ini, karena saya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadyah.</p>
<p class="MsoNormal"><span><span>Di masa itu, Harian Singgalang memiliki perwakilan di Bukittinggi. Ada empat orang wartawan Singgalang yang senior yang mengisi perwakilan. Namanya Nusjirwan Damhoeri, Has Ahmad, Hasril Chaniago dan Adeks Rossie Mukri. Keempatnya sudah karyawan tetap. </span><span lang="SV">Mereka menerima gaji tiap bulan meski kadang-kadang suka terlambat. Beda dengan saya yang berstatus KL. Pendapatan saya tergantung dari jumlah berita yang dimuat.<span id="more-57"></span><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Karena jumlah berita sangat bersangkut dengan pendapatan, maka saya mesti rajin. </span><span lang="FI">Apa saja saya liput. Berita kelurahan, berita kriminal, kegiatan pemko, bencana longsor, berita olahraga, kebakaran, lomba fashion show, demo pedagang Pasar Atas, hingga peristiwa kecelakaan maut.</span></p>
<p class="MsoNormal">Dukungan para senior turut pula memacu pendapatan saya, terutama dorongan dari Nusjirwan Damhoeri dan Hasril Chaniago. Keduanya sering membawa saya pergi meliput. Pulangnya, saya yang disuruh menulis berita. Imbalannya, di bagian bawah berita itu, saya tuliskan inisial nama saya, berdua dengan inisal sang senior tadi.</p>
<p class="MsoNormal">Apa senior itu mendapat amplop? Tidak tahu saya. Tidak nampak oleh saya orang memberikan amplop. Cuma, karena dia sudah senior, banyak temannya di tempat acara itu yang menyapa. Berbincang-bincang. Mengajak makan. Ada pula yang menyuruh senior ini datang ke kantor. Kalau sudah acara yang demikian, saya tidak dibawanya ikut.</p>
<p class="MsoNormal">Yang jelas, kolaborasi saya dengan para senior itu, tentu saja saling menguntungkan. Saya mendapat honor. Sedangkan bagi senior tadi juga ada keuntungannya. Seusai acara, dia sudah bisa pulang ke rumah, atau pergi bermain kartu ke Kantor PWI di dekat Lapangan Kantin. Dia tidak lagi repot menulis berita. Tidak memikirkan cetak foto. Tidak pula harus pontang-panting ke kantor wartel untuk mengirimkan faximili. Semua kerepotan itu, sayalah yang melakoni.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan pola senior-yunior tadi itu, honor berita yang saya terima tiap bulan, menjadi cukup banyak. Harga tiap satu berita pada waktu itu Rp2.500. Kalau jadi headline, harga berita bisa meningkat menjadi Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Dulu, harga berita yang terbit di halaman satu, nilai rupiahnya agak berlebih sedikit dibandingkan dengan berita yang terbit di halaman dalam. Saya tidak tahu sekarang.</p>
<p class="MsoNormal">Jadi, dengan cara seperti itulah saya belajar. Saya mengasah pisau kewartawanan saya. Menimba ilmu dari para senior. Banyak kekeliruan saya yang diluruskan oleh senior ini, terutama oleh Hasril Chaniago.</p>
<p class="MsoNormal">Kehebatan Hasril Chaniago adalah berbahasa. Dalam menulis berita, dia mahir memilih kata. Cakap menggunakan prinsip ekonomi kata. Saya senang membaca berita-berita yang ditulis Hasril Chaniago. Rasanya, saya mewarisi sebagian dari kemahirannya itu. Dan itulah yang menjadi modal saya di kemudian hari, ketika saya melamar menjadi Koresponden RCTI untuk Sumatera Barat.</p>
<p class="MsoNormal"><span>Kembali kepada cerita Bukittinggi. Pada kesempatan berbincang-bincang di Kantor Perwakilan, Jl. Ahmad Yani, seringkali Uda Nusjirwan Damhoeri, Has Ahmad, Hasril Chaniago, dan Adek Rossie memberikan kritik atas penulisan berita saya. ”Jan pidato urang se nan disalin, korek sia urang itu.</span><span lang="FI">Bilo paralu acara nan talambek mulai, itu jadikan berita,” kata Nusjirwan Damhoeri suatu ketika. Para senior itu juga tidak sungkan untuk membagi ilmu tentang etika dan kiat berwawancara.</span></p>
<p class="MsoNormal">Dari pengalaman di Bukittinggi itu, yang ingin saya katakan, bahwa pola senior-yunior yang familiar, mendidik dan membagi ilmu, itulah yang sesungguhnya menjadi pola regenerasi di Harian Singgalang. Konon kabarnya pola senior-yunior yang mendidik itu telah dimulai sejak Harian Singgalang didirikan 40 tahun lalu.</p>
<p class="MsoNormal">Akhir-akhir ini, saya termasuk jarang bertandang ke Harian Singgalang. Saya tidak berani menjamin, apakah pola senior-yunior yang seperti saya alami itu, masih ada sekarang atau tidak di tubuh surat kabar yang saya cintai ini. Saya masih berharap, suasana senior-yunior itu tetap tumbuh dan menjadi ritme alih generasi.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sebab, sekarang pola senior-yunior masih tetap dipakai oleh banyak perusahaan, termasuk perusahaan pers. </span><span lang="FI">Tetapi maknanya lebih kepada suasana atasan dan bawahan, bukan kakak-adik, bukan guru-murid, dan bukan pula teman diskusi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Dengan pola atasan-bawahan jelas tidak akan tercipta transfer keterampilan, tidak muncul suasana berbagi keilmuan, serta tidak tercermin ketauladanan dalam pergaulan.</span></p>
<p class="MsoNormal">[***]</p>
<p class="MsoNormal">Tahun 1989, saya menjadi karyawan di Harian Singgalang. Cepatnya saya diangkat menjadi karyawan tidak terlepas dari peran Syafrial Arifin alias Uda Cap. Sebagai Redaktur Pelaksana, Syafrial Arifin ”memaksa” perusahaan untuk segera mengangkat saya, dengan alasan seolah-olah jajaran redaksi kekurangan SDM untuk menangani rubrik generasi muda dan edisi minggu.</p>
<p class="MsoNormal">Syafrial Arifin mengajarkan banyak hal kepada jajaran redaksi pada waktu itu. Salah satunya, terbitkan feature di halaman satu, setiap hari. Sentuh hal-hal yang humanis. Angkat tentang keseharian masyarakat. Banyak liputan feature yang sukses pada waktu itu. Tentang nasib koperasi, tentang air PDAM, tentang burung berkicau, tentang budaya bersyafar, tentang tradisi kawin berjeput, termasuk tentang pergaulan muda-mudi ‘basicontiak’. Masih banyak feature yang lain.</p>
<p class="MsoNormal">Ternyata benar. Liputan feature di halaman satu Harian Singgalang mendapat respon dari masyarakat pembaca. Hal itu terbukti dari surat pembaca dan telepon yang masuk ke redaksi.</p>
<p class="MsoNormal">Saya mendapat pengalaman berharga dengan kehadiran Syafrial Arifin di Harian Singgalang. Selain diangkat menjadi karyawan, saya menimba ilmu menulis feature dari orang yang tepat; berjiwa ngemong dan memiliki kemampuan yang lebih dari cukup.</p>
<p class="MsoNormal">Ada tokoh selain Syafrial Arifin yang pantas saya catat dalam karir kewartawanan saya di Harian Singgalang. Namanya Fachrul Rasyid. Jujur saja, ada beberapa orang yang hanya mengiya-iyakan saja ucapan FR. Supaya FR senang dan terus mengumbar ceritanya. Tetapi, saya tidak. Saya mengagumi beberapa hal dari FR, yaitu; beritanya komplit. Bernas. Ia tidak mau membuat berita yang asal jadi.</p>
<p class="MsoNormal">Kalau nara sumber tidak lengkap dan bukti-bukti tidak kuat, ya sebaiknya berita itu dijauhkan dari Fachrul Rasyid. Kalau sampai ke tangannya, wartawan yang menulis berita itu akan ditatar habis-habisan. Salah satu cara FR mengajari wartawan yang beritanya ”bermasalah” adalah dengan memberi contoh dari berita-beritanya sendiri. Kalau dapat penataran dari FR, bisa menghabiskan waktu hingga satu jam.</p>
<p class="MsoNormal">Bagi yang mendengarnya pertama kali tentu merupakan ilmu yang berharga. Tetapi kalau sudah berkali-kali, rasanya bosan juga. Tetapi FR tidak peduli. Ia akan tetap memuntahkan semua ilmunya, semua pengalamannya kepada wartawan yang dianggapnya memerlukan. Menurut saya, seorang wartawan pemula sebaiknya kenal terlebih dahulu dengan Fachrul Rasyid, untuk memantapkan dasar-dasar jurnalistiknya.</p>
<p class="MsoNormal">[***]</p>
<p class="MsoNormal">Pengalaman jurnalistik selama delapan tahun di Harian Singgalang, 1986-1994, telah mengantarkan saya menjadi seorang wartawan yang penuh warna. Dari Hasril Chaniago saya mendapatkan ilmu pilihan kata, ekonomi kata, termasuk penggunaan ejaan yang benar. Hasilnya, saya rasakan manfaatnya dalam keseharian saya sebagai seorang wartawan televisi.</p>
<p class="MsoNormal">Dari Syafrial Arifin, saya menimba kepiawaiannya dalam menulis feature. Sekarang saya sadari, dia memang gurunya feature. Kemudian Syafrial Arifin mengajarkan kepada awak Harian Singgalang, agar menuliskan jati diri nara sumber di dalam bagian-bagian berita, misalnya umur, suami, pendidikan atau pun negeri asal. Pola ini di belakangan hari menjadi trend dalam penulisan berita. </p>
<p class="MsoNormal">Dari Fachrul Rasyid mengajarkan taat azas pada deadline. Berita mesti dengan nara sumber yang relevan dan bukti atau fakta yang kuat. Jika tidak, FR pasti akan mincaracau sepanjang-panjangnya. Pendek kata, era investigasi report dalam pemberitaan di Harian Singgalang pada zaman itu dipelopori oleh Fachrul Rasyid.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Saya termasuk beruntung, karena bertahun-tahun bekerja bersama dengan ketiga orang ini; Hasril Chaniago, Fachrul Rasyid dan Syafrial Arifin. Saya menganalogikan ketiganya adalah jambu, kedondong dan bengkoang. Ya, ketiganya jika dicampur akan menghasilkan rujak yang enak. Saya menamakannya ’Rujak Singgalang’.</span></p>
<p class="MsoNormal">Selamat ulang tahun ke-40 Harian Singgalang. Meski ketiga orang ini; Hasril, Fachrul dan Syafrial, tidak lagi di Veteran 17, mudah-mudahan Uda Basril Djabar masih tetap memiliki ’Rujak Singgalang’ dengan rasa yang berbeda. ***</p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal"><strong>Gusfen Khairul (Wartawan Singgalang, 1986-1994)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palantaveteran17.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palantaveteran17.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palantaveteran17.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palantaveteran17.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palantaveteran17.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palantaveteran17.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palantaveteran17.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palantaveteran17.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palantaveteran17.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palantaveteran17.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palantaveteran17.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palantaveteran17.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palantaveteran17.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palantaveteran17.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=57&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/gusfen-hasril-fachrul-syafrial-adalah-%e2%80%99rujak-singgalang%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2b598c5bd75a75a519f363983bef961?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Palanta Veteran17padang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/12/gusfen.jpg?w=70" medium="image">
			<media:title type="html">gusfen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fachrul RHF : Kenangan Tujuh Tahun di Singgalang</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/fachrul-rasyid-hf-kenangan-tujuh-tahun-di-singgalang/</link>
		<comments>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/fachrul-rasyid-hf-kenangan-tujuh-tahun-di-singgalang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 06:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Palanta Veteran17</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ciloteh Palanta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palantaveteran17.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Selasa pagi 14 Maret 1982 persis tiga hari setelah hari pernikahanku. Setahun tiga bulan aku jadi koresponden Majalah Berita TEMPO. Atau dua bulan setengah setelah Mingguan berubah jadi Harian Singgalang. Aku datang ke Kantor Harian Singgalang di Jalan Veteran Nomor 17 Padang. Aku memarkir sepeda motorku, CB100 warna merah, di bawah pohon Aru yang tumbuh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=47&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-53" title="fachrul" src="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/12/fachrul1.jpg?w=477" alt="fachrul"   />Selasa pagi 14 Maret 1982 persis tiga hari setelah hari pernikahanku. Setahun tiga bulan aku jadi koresponden Majalah Berita TEMPO. Atau dua bulan setengah setelah Mingguan berubah jadi Harian Singgalang. Aku datang ke Kantor Harian Singgalang di Jalan Veteran Nomor 17 Padang.</p>
<p>Aku memarkir sepeda motorku, CB100 warna merah, di bawah pohon Aru yang tumbuh rindang di tanah kosong yang berumput di sebelah kantor berlantai dua tetangga toko beras itu. Aku sudah biasa ke kantor yang dilantai satunya penuh tumpukan kertas dan mesin-mesin percetakan itu sejak mulai belajar menulis artikel tahun 1978.<span id="more-47"></span></p>
<p>Aku biasa turun naik mengikuti da An, Anwar Tahar, redaktur Mingguan Singgalang, atau pak Salius, Salius Sutan Sati, pemimpin perusahaan, yang suka mengoreksi dan mengajari aku menulis yang benar.</p>
<p>Di ujung selatan lantai dua kantor itu aku menyalami da Bas, Basril Djabar, yang tiga hari sebelumnya hadir dan berpidato mewakili undangan di pesta pernikahanku. Di situ ada pak Salius, ada da Nas, Nasrul Sidik, pemimpin Redaksi Harian Singgalang, bang Chairul Harun, dan Muchlis Sulin Dt. Marajo, saksi pernikahanku. Dia koresponden Majalah Tempo yang baru bergabung di Harian Singgalang.</p>
<p>Beberapa saat bersenda gurau yang lain pada pergi. Aku tetap duduk membaca koran di depan meja Muchlis Sulin, yang akrab disapa Dt. Muchlis. &#8220;Rul&#8221;, ujar bang Muchlis. &#8220;Apa rencana mu setelah menikah ini. Kau mau bergabung dengan Singgalang. Sebentar lagi orang akan berbagi meja, nih,&#8221; katanya. Maksudnya, berbagi tugas.</p>
<p>Esoknya, permintaannya aku iyakan. Lalu, disambut gembira da Bas, da Nas, pak Salius, da An, bang Wisran Hadi, bang Hamid, Hamid Djabar yang juga diajak da Bas mebangun Harian Singgalang. Sejak itu aku merangkap kerja, jadi wartawan TEMPO dan Harian Singgalang. Sejak itu pula tiap hari aku datang pukul 08.00, lalu bergrilya mencari berita. Rata-rata aku baru bisa pulang ke kediamanku di Gaung Telukbayur sekitar pukul 21.00 malam.</p>
<p>Karena hanya terbiasa menulis feature dan laporan untuk Majalah Tempo aku belajar dan mencontek berita-berita hasil koreksian para redaktur yang diketik ulang Indra Persada. Ternyata bisa dan dianggap bagus. Tiga bulan kemudian aku diangkat jadi Redaktur Olahraga menggantikan Aljufri, yang mengajar di STO. Kemudian malah merangkap Redaktur Padang Kota menggantikan Bang Wisran dan beralih jadi Redaktur Opini dan Budaya.</p>
<p>Begitupun tugas meliput dan memburu berita, baik dalam maupun luar kota, tak berkurang. Maklum, aku salah satu dari sedikit wartawan yang punya sepeda motor dan punya kamera baru Asahi Pantak MX, kredit dari TEMPO. Bahkan, setelah jumlah redaktur kian lengkap dan Kantor Singgalang berlantai tiga yang baru di sebelahnya rampung, aku praktis jadi pemburu berita apa saja.</p>
<p>Pada 21 April 1982 aku diangkat sebagai karyawan PT. Genta Singgalang Perss. Akupun sering ditugasi mendadak meliput, mulai soal sampah yang menggunung di seantero kota ini, got yang tersumbat, urusan pemerintahan sampai meliput berbagai kasus dan kejadian di  Polresta Padang, Kejaksaan Negeri, Kejaksaan Tinggi, pengadilan, Markas Kodam/ Korem, masalah  ekonomi dan perbankan.</p>
<p>Aku juga sering bersepeda motor  meliput berita-berita yang tak sanggup digarap teman wartawan di daerah. Atau meliput berita yang menyerempet bahaya, misalnya, kematian sekitar 136 warga saat naik kapal perang di hari ulang tahun ABRI di Teluk Bayur Oktober tahun 1982. Akulah satu-satunya wartawan yang mendapatkan gambar jenazah diangkut dari perut kapal itu. Tapi kemudian dilarang dimuat. Berita-berita untuk TEMPO pun kadang dimuat duluan untuk Singgalang dan sebaliknya.</p>
<p>Tak pelak aku jadi orang nakal yang disayangi di kalangan redaktur. Soalnya, berita-beritaku sering membuat uda Bas, Pemimpin Perusahaan yang kemudian jadi Pemimpin Redaksi, atau wakilnya Muchlis Sulin dan Chairul Harun ditelepon para pejabat. Aku pun disayangi, sering dikasih uang dan diajak makan oleh da Bas, bahkan sering dibawa berurusan ke berbagai kantor dan bank, karena dianggap cakap.</p>
<p>Aku kemudian menyewa rumah di belakang kantor Singgalang. Tahun 1983 anak pertamaku lahir. Perempuan, Syeikha Rulanda namanya. Usianya tak cukup sebulan, meninggal di RSUP dr. M. Jamil dan dimakamkan di Tunggul Hitam. Jenazahnya diiringi semua orang Singgalang dan kenalan ku didahului mobil Toyota Hartop bersirena milik uda Oyon, Yonda Djabar.</p>
<p>Tahun 1984 &#8211; 1987 adalah hari-hari terberat di Singgalang. Badanku kurus kering. Sampai satu hari istriku menangis karena batukku bercampur darah. Toh, istriku gembira karena kami sudah bisa membeli tanah dan membangun rumah dua kamar di Jati, rumahku sekarang.</p>
<p>Kala itu, sudahlah gaji kecil, waktu pembayaran gaji pun tak teratur. Kadang menerima gaji satu setengah bulan sekali. Tapi kebutuhan beras, sabun, minyak goreng, teh, gula, susu dan bahkan sarden bisa ngebon di kedai koperasi yang juga  sering kosong karena gajian terlambat.</p>
<p>Dalam situasi seperti itu da Bas terus memompa semangat kerja. Satu hari ia mengadakan lomba menulis feature antar wartawan. Aku dan Hasril Chaniago meraih penulis terbaik dan Darlis Sofyan penulis produktif. Hadiahnya sama. Masing-masing sebuah televisi Nasional hitam putih 14 inci. Istriku bisa menonton televisi dan aku pun gembira karena bisa menyelesaikan skripsi dan diwisuda November 1986.</p>
<p>Meski hidup sering ngutang, semangat kerja tak pernah kendur. Aku kemudian diangkat jadi Koordinator Liputan yang mengkoordinasikan operasional wartawan di Padang atau di daerah. Celakanya, ketika wartawan di daerah dikejar-kejar polisi gara-gara berita aku pula yang dikirim menghadap polisi di daerah itu. Itu misalnya, ke Polsektif Padangpanjang dan Polres Tanah Datar.</p>
<p>Saat itu dinamika kerja luar biasa dan rasanya belum tergantikan sampai sekarang. Selain karena da Bas pintar mengompori semangat, di Singgalang kala itu berkumpul `orang-orang pintar&#8217; Sumatera Barat. Disamping Muchlis Sulin dan Chairul Harun wartawan paling senior dan kritis, ada sejumlah sastrawan terkemuka. Yakni AA Navis, M. Yusfik Helmi, Wisran Hadi, Abrar Yusra, Hamid Djabar, Makmur Henderik, Haris Effendi Tahar dan pelukis `Tan Baro&#8217; Achyar Sikumbang.</p>
<p>Beberapa readaktur senior Majalah TEMPO pun sering berceramah di Singgalang. Ed Zoelverdi misalnya sampai mengajarkan mengambil dan menecetak foto. Kemudian, Karni Ilyas, Haerry Komar, Yusril Djalinus dan Machtum, setiap kali datang ke Padang `wajib&#8217; berbicara di Singgalang.</p>
<p>Bisa dimaklumi kalau jam kerja nyaris selalu diwarnai diskusi, adu argumen, kritik, dan bahkan cemeeh. Sebagaimana mestinya di kantor surat kabar, kajian politik, analisa budaya, hukum dan apa saja adalah buah bicara tiap hari. Suasana itulah yang merangsang kecerdasan dan ketajaman sehingga wartawan Singgalang rata-rata bisa jadi penulis kritik, opini dan bahkan buku.</p>
<p>Perang mulut pun jadi lumrah. Apalagi, kala itu, aturan organisasi, uraian tugas dan penjenjangan karir belum ada rumusannya. Karena itulah tahun 1986, atas anjuran Bang Ed Zoelverdi, aku, mengajak Hasril Chaniago dan Indra Nara Perasa sehabis bekerja malam, terus ke rumah Hasril di Perumnas Tabing yang dekat dari rumah da Bas. Kami merumuskan organisasi, uraian tugas/ tanggungjawab dan kepangkatan di Singgalang.</p>
<p>Tiga hari kemudian, kami mengetuk pintu Rumah da Bas sekitar pukul 05.00 subuh.</p>
<p>Da Bas tampak terpurangah karena memang tak diberitahu sebelumnya. Tapi, aku larang dulu dia bicara. &#8220;Uda dengar dulu apa yang kami sampaikan ini. Jika dianggap bermanfaat tolong digunakan di Singgalang&#8221;. Kami pun  pergi.</p>
<p>Seminggu kemudian da Bas terdengar sudah mengumpulkan petinggi Singgalang. Lalu, diam-diam ia mengisi struktur organisasi yang kami bikin. Sejak itu adalah jabatan redaktur Pelaksana, Kooirdinator Liputan dan sebagainya. Celakanya, aku dapat wakil Redaktur Pelaksana yang membidangi operasional membawahi Koordinator Liputan. Aku pun ditugaskan menertibkan wartawan Singgalang di Jakarta yang membuat aku terus akrab dengan Mas Soeparto HAR, Kepala Perwakilan Singgalang di Jakarta.</p>
<p>Beberapa bulan kemudian, atas saranku, Singgalang untuk pertama kali menerima calon reporter berstandar pendidikan S1 melalui seleksi khusus. Dari situlah kemudian munculnya wartawan  Zul Efendi, SH, Yoserwan SH, Ir. Yongki Salmeno, Imran Rusli, Drs. Mursid Sunsang, Sabra Fery Act dan tiga wartawati aku lupa namanya.</p>
<p>Ketika pak Nazif, Dirut, dan pak Ismet, Direktur Kredit Bukopin, berkunjung ke Padang, 1987,  da Bas dan pak Ismet berbicara di Restoran Putri Buqis. Aku disuruh menemani pak Nazif melihat kantor Singgalang, kebetulan aku akrab dengannya karena aku berteman dengan abangnya pak Ir. Zulfi Hajar, Pimpin PLN Wilayah Sumbar Riau.</p>
<p>Sampai di ruang redaksi, sembari menunjuk teman-teman aku bicara. &#8220;Pak Nazif. Semua karyawan di sini rata-rata kepala dua dan kepala tiga (maksudku usia di atas 20 dan 30 tahun). Meski gaji sering terlambat semangat kerja mereka tak pernah kendur. Tapi kalau sekali korannya terlambat terbit karena mesin cetaknya rusak, eh, wartawannya loyo sebulan,&#8221; aku bilang.</p>
<p>Kami pun balik ke Restoran Putri Bulqis. Aku lihat pak Nazif langsung memanggil da Bas. Sejenak kemudian da Bas menghampiriku . &#8220;Rul, tadi kau bilang apa sama pak Nanzif,&#8221;bentaknya. &#8220;Ndak bilang apa-apa da,&#8221; jawabku singkat. Lalu, aku ceritakan pembicaraan sama pak Nazif tadi. &#8220;Kau tau, pak Nazif memerintah segera beli mesin cetak baru,&#8221; da Bas seperti marah. Aku tahu da Bas sangat gembira. Tapi, dasar lakon, dia pintar bersandiwara. Buktinya, urusan mesin itu terus diintensifkan dan setahun kemudian mesin cetak baru itu dibeli di Korea Selatan.</p>
<p>Meski dihimpit hutang, gairah kerja di Singgalang makin baik. Oplag pun meningkat. Tapi akibat munculnya jabatan Redaktur Pelaksana dan Koordinator Liputan, jabatan Wakil Pemimpin Redaksi pun habis. Chairul Harun jadi Ketua Dewan Redaksi dan Muchlis Sulin jadi Sekretaris Pemimpin Perusahaan. Sejak itu sering muncul isu yang mengacaukan kalangan muda di jajaran redaksi. Entah karena isu itu, meski aku tolak, aku dipindahkan jadi Kepala Litbang Diklat.</p>
<p>Tapi isu-isu tak sedap tak juga reda sampai akhirnya muncul trik politik dari Chairul Harun, siapa yang berkerja rangkap pilih salah satunya. Maka, teman-teman yang PNS, seperti Wardas Tanjung, Hambali dan Basril Basar, memilih PNS.</p>
<p>Aku pun dipanggil mendiang Bastian Sompi, manejer perusahaan yang diperbantukan Bank Bukopin untuk pertanyaan yang sama. Aku menyatakan memilih di Majalah TEMPO. Tapi, jawaban ku baru disetujui setelah pak Bastian berbicara dengan da Bas dan da Oyon. Pada 16 November 1989 aku resmi berhenti di Singgalang. Dan,  1 Januari 1990 aku diangkat sebagai karyawan penuh PT. Grafiti penerbit Majalah TEMPO.</p>
<p>Anas Lubuk, Pemimpin Redaksi Harian Haluan, yang tahu aku mundur dari Singgalang mengajakku ke kantornya. Dia menuturkan pembicaraannya satu hari di kamar hotel bersama da Bas saat mengikuti rapat SPS di Yogyakarta. Katanya, ia dan da Bas saling menyebut masa pensiun. &#8220;Kalau nanti kita pensiun dari koran ini, siapa kader yang da Nas siapkan sebagai pengganti,&#8221; ujar da Bas seperti ditirukan da Nas. &#8220;Aku lihat tampaknya Herman L orang yang bisa menggantikan ku,&#8221; jawab da Nas. &#8220;Kalau angku siapa Bas,&#8221; da Nas balik bertanya. &#8220;Ambo, lihat Fachrul tampaknya yang bisa dikader,&#8221; jawab da Bas. Karena itu Anas Lubuk mengaku terkejut mendengar kabar aku mundur dari Sainggalang.</p>
<p>Kebenaran cerita itu hanya mereka berdualah yang tahu. Sejarah kemudian berbicara lain. Aku sendiri, beberapa lama setelah mundur dari Singgalang, masih sering dipanggil da Bas, da Oyon dan pak Bastian, untuk meliput dan menulis berita-berita khusus kejaksaan dan perbankan atau  berbicara tentang hal-hal tertentu atau sekedar diajak makan siang.</p>
<p>Padang, 2 Desember 2008.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palantaveteran17.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palantaveteran17.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palantaveteran17.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palantaveteran17.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palantaveteran17.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palantaveteran17.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palantaveteran17.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palantaveteran17.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palantaveteran17.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palantaveteran17.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palantaveteran17.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palantaveteran17.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palantaveteran17.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palantaveteran17.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=47&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/fachrul-rasyid-hf-kenangan-tujuh-tahun-di-singgalang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2b598c5bd75a75a519f363983bef961?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Palanta Veteran17padang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/12/fachrul1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fachrul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Eko YE : Buah Baju Nan Santiang</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/eko-ye-buah-baju-nan-santiang/</link>
		<comments>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/eko-ye-buah-baju-nan-santiang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 03:49:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Palanta Veteran17</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ciloteh Palanta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palantaveteran17.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Ketika lima tahun yang silam saya memulai membangun miling list (milis) di internet untuk keperluan `taragak basuo&#8217; dengan para alumni wartawan Singgalang, saya tidak membayangkan bahwa milis itu akhirnya akan menjadi besar dan terus tumbuh. Awalnya saya ikuti sejumlah komunitas milis di internet terutama komunitas jurnalisme yang diprakarsai mantan wartawan Tempo dan Republika, Farid Gaban. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=42&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-5" title="eko" src="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/11/eko.jpg?w=477" alt="eko"   />Ketika lima tahun yang silam saya memulai membangun miling list (milis) di internet untuk keperluan `taragak basuo&#8217; dengan para alumni wartawan Singgalang, saya tidak membayangkan bahwa milis itu akhirnya akan menjadi besar dan terus tumbuh. Awalnya saya ikuti sejumlah komunitas milis di internet terutama komunitas jurnalisme yang diprakarsai mantan wartawan Tempo dan Republika, Farid Gaban.<br />
<span id="more-42"></span><br />
Lalu saya pikir kenapa tidak membuat milis sendiri yang dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dengan para alumni Singgalang saja. Saya lalu ketemu Budi Putra, alumni Singgalang yang bersama saya pernah mengelola koran online pertama di Sumatra, Ekuator. Ketemunya juga di internet. Saya bilang ke Budi, bagaimana kalau dibuatkan milis untuk kita. Kita di sini maksudnya adalah kelompok Eksis Komunika. Oh ya, selepas `diwisuda&#8217; oleh Da Bas menjadi alumni Singgalang tahun 1998 kami hanya merasa sekedar lepas dari pekerjaan rutin di bawah pimpinan Da Bas, bukan merasa silaturahmi juga harus lepas. Buktinya tiap hari kami masih main ke Jl Veteran, tempat koran ini bermarkas. Tidak ada yang canggung. Yang canggung justru mereka yang `belum tamat&#8217; alias teman-teman yang tetap bertahan. Oleh karena itu juga menurut kami nama Singgalang masih `perlu&#8217; dijual dalam komunitas ini. Desember 1998 terbentuklah Eksis Komunika itu yang merupakan singkatan dari Eks Singgalang Sehati Berkomunikasi. Dari Eksis Komunika itu lahir banyak pekerjaan. Bikin koran online, bikin koran dengan label koperasi (pertama di Indonesia) bikin penerbit buku, bikin perusahaan rekaman, bikin perusahaan IT, bikin web untuk sejumlah Pemda dan perusahaan di Sumatra Barat, bikin even organizer, bikin jejaring UKM se Indonesia, bikin kebun kopi, bikin usaha sayur organik, bikin perusahaan desain grafis, bikin jasa konsultan media, bikin kantor hukum.</p>
<p>Akhirnya memang berbalik ke modal jua. Dari banyak ragam yang kami bikin ada yang sukses ada yang gagal. Tapi percayalah bahwa semua pernah menikmati hasilnya.</p>
<p>Menurut saya semua itu tidak bisa terjadi kalau kami tidak pernah mengenyam `akademi singgalang&#8217;. Di situ diajarkan `cara menjadi orang&#8217;. Kalau cara menulis berita itu sudah pasti, tapi ada pengajaran cara mencari berita, cara berbicara dan cara diam, cara bersopan santun dan cara bercarut, cara tersenyum dan memukul meja. Dan yang lebih penting adalah `cara  hidup&#8217; dan cara membina harga diri sebagaimana mottonya.</p>
<p>***</p>
<p>Maka ketika Budi menekan tombol oke pada kompternya saat saya minta dia bikinkan sebuah milis untuk Eksis Komunika, saya gembira. Besoknya saya diberitahu Budi bahwa milis itu sudah jadi, silahkan simak di http://groups.yahoo.com/group/palanta</p>
<p>Agar milis itu segera diakses kawan-kawan, saya lalu pakai jalur cepat dengan SMS ke semua mantan wartawan Singgalang. Akhirnya meledaklah. Kini tiap hari ada saja yang `digunjingkan&#8217; dalam milis itu. Tak ada yang mencoba-coba menjelek-jelekkan Singgalang. Sebaliknya, para anggota milis yang menyebut dirinya `vetaran jalan vetaran&#8217; malah menjadi corong publikasi (nah yang ini mestinya Da Bas bayar dong..he he he)</p>
<p>Setelah sepuluh tahun berlalu silaturahmi tak berubah, Ada satu hal yang senantiasa membuhul kami yakni: kegilaan. Saya senantiasa teringat petuah Da Bas, bahwa semua kita harus jadi `urang gilo&#8217;. Pada masa-masa sulit Singgalang, kata itu terus ditekankan Da Bas. Semua harus membuat apa saja yang bisa dibuat untuk membangun satu generasi yang hebat di Singgalang, Ketika itu tidak ada kata `oh jangan&#8217; dari Da Bas bila ada yang mengusulkan hal-hal an usual.  Da Bas pasti tahu bahwa nanti hasilnya akan baik-baik saja dan membawa manfaat untuk Singgalang. Lalu ia mendorong dari belakang.</p>
<p>Entah bagaimana, para `wisudawan/ti&#8217; yang jumlahnya kini mencapai 57 orang (menurut statistik yang dibuat oleh Indra Nara Persada) memasuki dunia lebar juga dengan semangat kegilaan yang ditularkan dari Da Bas itu. Mereka bertebaran di hampir sekerat Indonesia bagian Barat ini. Zul Effendi di Sijori Mandiri Batam, Tun Akhyar di Riau Mandiri  Pekanbaru, Afrimen di Dumai, Luna Agustin di Riau TV, Luzi Diamanda di Pekanbaru, Hary B Koriun di Riau Pos, Yusril Ardanis Sirompak di SCTV, Mursyid Sonsang di RCTI bersama istrinya Asnelly R Daulay, Replianto di RCTI Bangka Belitung, Afdhal di Transparan Palembang, Marjeni Rokcalva penah di Metro TV Bengkulu, Gusfen Khairul di RCTI, Deni Risman di SCTV, Hardimen Koto jadi komentator sepakbola, Zoelthan di Harian Olahraga Topskor, Budi Putra dari Tempo ke Blogger Asia begitu juga Maifil Eka Putra selepas dari Majalah Ummat mendirikan perusahaan IT, Herlambang Fajar memenej media online di Bandung, Indra Nara Persada di Jakarta, Saya, Rusdi Bais dan Ismet Fanany di Haluan sambil mengurusi pertanian organik dan peternakan sapi. Hasril Chaniago pernah jadi Anggota Panwaslu Sumbar dan menekuni juga bisnis peternakan dan pertanian besar, Imran Rusli di Padangmedia.com bersama Atviarni, Adeks Rosy Moekri Yongki Salmeno selepas dari Kompas memilih jadi peternak sambil jadi konsultan media, Indra Sakti Nauli berkelana dari Pekanbaru, Batam, Bengkulu dan kini kembali ke Padang. Sekedar menyebut yang lain adalah Sjafrial Arifin masih menekuni dunia sinetron, Abrar Yusra masih tekun menulis, Asril Joni jadi dosen, Bachrum Rony Arifin di Jakarta, Kardinal Munir dan Akmal Darwis memilih jadi pengusaha, Rina Morita,  Eki Hari Purnama, Yoserwan, Afrinal Aliman memilih jalur PNS. Yang lain? Sebut saja Masful, Alirman Sori yang  berada di jalur politik. Termasuk Asraferi Sabri yang akhirnya mencoba pula tantangan baru: jadi Wali Nagari! Padahal dulu dia paling memedulikan bahasa jurnalistik dan bahasa Singgalang.  Sedangkan Fachrul Rasyid, mantan Koordinator Reportase yang bergabung ke Tempo dan Gatra, kini menekuni dunianya: jadi kolomnis. Jangan harapkan pujian darinya, karena dia sangat pelit dengan pujian!</p>
<p>Kenapa bisa sekomplit itu? Inilah yang saya sebut `akademi singgalang&#8217; dimana manusia mencetak dirinya sendiri untuk digunakan secara bersama-sama dan didorong dengan iklim afklarung yang kondusif dari para pimpinan Singgalang sejak tiga dasawarsa lalu. Jadi selama tiga dasawarsa secara tidak sadar Da Bas mencetak `orang-orang gila&#8217; yang kemudian  mengerjakan hal-hal gila yang penuh tantangan serta memacu andrenalin. Orang-orang dibiarkan dan `dilapangkan jalan&#8217; untuk membangun kreatifitas. Sehingga memberi judul berita pun dulu sambil bercanda-canda saja.</p>
<p>Saya teringat ketika pagi-pagi bersama Indra Nara Persada dimarahi Da Bas tentang sebuah judul : `Konglomerat Rakyat Lahir dari Bukittinggi&#8217; Da Bas bercarut: &#8220;Berita buah baju!&#8221; (buah baju adalah idiom ciptaan Pak Navis untuk bercarut) Da Bas murka benar pagi itu sehingga tak disadarinya tangannya kesakitan karena memukul-mukul meja. Saya dan Indra Nara Persada memberi penjelasan bahwa judul itu dibuat bersama-sama semalam. Yang menulis berita adalah Wardas Tanjung, tapi isinya ditukangi oleh Hasril Chaniago. Tapi Da Bas tak mau terima, pokoknya ini `berita buah baju!&#8217;</p>
<p>Saya akhirnya paham bahwa yang dikehendaki Da Bas jadi headline adalah pernyataan Sri Edie Swasono. Tapi ketika itu berita Mas Edi hanya termuat tiga kolom saja dan tidak menonjol benar. Waktu kemudian bergulir bersama gelak tawa di lantai III.</p>
<p>Bulan Agustus pagi-pagi saya dan Inpers (Indra Nara Persada) sarapan lagi di kedai Pak Kayo makan lonte alias lontong sate. Slamet –dia Satpam yang merangkap sopir—memanggil : &#8220;Pak Bas suruh ke ruangannya&#8221;</p>
<p>Di ruangannya, Da Bas sudah duduk di meja mundarnya sambil memilin-milin rokok. Lalu dengan gaya teateris dia berkata: &#8220;Surprise&#8230;surprise&#8221; (kalau tidak salah sampai empat kali). Biasalah, Inpers orangnya selengekan. &#8220;Apo lo tu surprise Da?&#8221; Tak lama kemudian Da Bas menyorongkan faksimili. Faks itu dari Departemen Penerangan, sebuah departemen yang sangat ditakuti pers waktu itu. Isinya: Singgalang dinyatakan sebagai penerima anugerah Kalam Kencana dari Presiden. Ini anugerah bergengsi untuk media waktu itu. Da Bas berkaca-kaca matanya, beberapa orang awak redaksi yang sudah datang kemudian memadati ruang kerja Pemimpin Umum itu. Kami bersalaman. Hening, hanap!</p>
<p>Saya tak tahan untuk tidak berkomentar. &#8220;Da, nan dapek hadiah tu kan berita buah baju dulu, Da?&#8221; Maka tak ayal semuanya tertawa terbahak-bahak. No Comment. Berita yang mendapat anugerah presiden itu berita yang dua bulan sebelumnya adalah berita yang dimaki-maki Da Bas itu!</p>
<p>Ada banyak fragmen-fragmen yang memberi denyut dan memperlihat keberhasilan akademi singgalang memompa adrenalin segenap wartawannya. Yongki Salmeno pernah membuat Da Bas `tararau&#8217; ketika lewat Da Bas diberitahu oleh orang Setneg bahwa Singgalang melalui Yongki Salmeno akan menerima anugerah lingkungan hidup  di Istana Negara dari Pak Harto.</p>
<p>Sejak itu sejumlah prestasi ditorehkan. Semua diminta membuat prestasi masing-masing. Semua diminta memberikan catatan pada buku sejarah Singgalang. Hasril dikenal dengan prakarsa pariwaranya. Tahun 1990an koran daerah belum mengenal pariwara. HC memperkenalkan, sejak itu pariwara menular ke mana-mana. Perencanaan dan evaluasi serta rapor wartawan diperkenalkan Fachrul Rasyid. Menulis feature yang hebat diajarkan oleh peraih anugerah kritik film FFI, Sjafrial Arifin. Melihat berita yang bisa `dijual&#8217; diinspirasikan oleh Akmal Darwis. Membaca politik bawah tanah, Da Yonda Djabar memberi petuah. Melihat bisnis? Ya siapa lagi kalau bukan Da Bas. Politik lokal dan kebudayaan kami terima pengajarannya dari Bang Chairul Harun. Ia juga yang mencetuskan Koran Masuk Sekolah pertama di Indonesia.</p>
<p>Singgalang sangat care dengan Iptek, maka Indra Nara Persada menghabiskan banyak waktu untuk memberi penekanan soal itu. Abrar Yusra dan Asraferi Sabri tentu saja  mengilhami para wartawan muda Singgalang waktu itu untuk terus menulis dengan jurnalisme sastrawi. Hardimen Koto `menghajar&#8217; Tun Akhyar, Luna Agustin dan Yosrizal bagaimana `mendendangkan&#8217; orang kalah bertarung atau `meratapi&#8217; sebuah kemenangan pertandingan bola. Urusan berpacu dengan info kriminal, Ben Tanur waktu itu tak ada duanya. Gufen Khairul mengurusi dunia entertainmen, sedang Budi Putra amat piawai dalam hal IT.</p>
<p>***</p>
<p>Kali yang lain datanglah seseorang `mangapik kepala harimau&#8217; Dia menyodorkan relis berita kepada Da Yonda Djabar. Isinya ada kelompok yang mengusulkan Marizal Umar (kini sudah almarhum) menjadi Bupati Pesisir Selatan. Waktu itu suara main stream adalah untuk Masdar Saisa. Dan agak susah membendung Masdar. Karena itu, Hardimen Koto yang ditugasi mengedit relis itu jadi berita dengan ogah-ogahan menerima tugas dari Da Yonda. Besoknya Marizal Umar komplain ke Da Yonda karena merasa tak puas dengan berita itu. Padahal dari sisi jurnalistik berita itu sudah tak ada masalah, 5 W 1 H sudah lengkap. Keterangan Marizal dan organisasi pengusulnya juga sudah ada. Yang jadi soal bagi Marizal hanya judulnya saja. Saya tidak ingat siapa yang menulis judul itu: Ada Pula yang Mengusulkan Marizal Umar Jadi Bupati Pessel. Tak ada yang salah dari judul itu sebenarnya, baik dari sisi etimologi, linguistik dan ejaan. Hanya saja Singgalang mencoba mempersilahkan kepada pembacanya menilai sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>Maka tercatatlah dalam sejarah Kasus Sabri Zakaria. Saya berpendapat itu pantas ditulis jadi sebuah buku. Pada saat itu sebuah koran bernama Singgalang mencoba menegakkan yang dia yakini benar, tetapi entah bagaimana koran-koran lain kehilangan kesetiakawanan. Semua mengeroyok Singgalang. Seingat saya hanya Harian Pelita dan Kompas saja yang tidak ikut mengeroyok Singgalang sambil bernyanyi-nyanyi. Ketika itu solidaritas pers benar-benar sudah hancur total sampai ke titik nadir. Saya dan semua kawan di Singgalang menangis. Kami tahu siapa-siapa saja wartawan yang mengeroyok kami.</p>
<p>Kasus yang terus menerus dilarikan ke arah `hotel pangeran&#8217; tak pernah tuntas. Padahal substansinya secara jurnalistik bukan `insiden pangeran&#8217; melainkan seseorang menuntut seseorang. Tapi keroyokan yang sudah tidak menggunakan akal sehat membuat pertahanan Singgalang juga lumpuh. Kami berpikir, sudahlah, hentikan sajalah. Tak ada pula hebatnya membongkar kasus itu. Cukup Tuhan saja yang tahu. Toh akhirnya kawan-kawan yang mengeroyok itu adalah kawan-kawan kita juga.</p>
<p>Karena saya sebut sejarah pers, maka peristiwa itu dikemudian hari hendaklah jadi catatan paling kelam dari sejarah pers Sumatra Barat. Jangan diperkecil sejarahnya menjadi sejarah Singgalang tetapi harus menjadi sejarah pers Sumatra Barat kalau perlu menjadi sejarah pers nasional.</p>
<p>***</p>
<p>Kini 40 tahun sejak `proklamasi 18 desember&#8217; buku catatan sejarah Singgalang tentu sudah cukup tebal. Saya tidak ingin menanyakan apakah genarasi Singgalang yang sekarang masih `gila&#8217; atau sudah `waras&#8217;? Karena itu bukan sebuah pertanyaan yang bermutu. Sebab tiap generasi memiliki sejarahnya sendiri.</p>
<p>Tetapi paling tidak yang ingin  saya katakan jangan ada tali halus yang putus sejak 18 Desember 1968 hingga kapanpun. Generasi boleh berganti, tetapi yang satu itu tetap bisa dijadikan titik tempat semua generasi menyamakan pandangan. Apa itu? Saya juga tidak bisa menjawab dengan kalimat yang tapat dan persis. Biarlah masing-masing kita melihat dan merasakannya sendiri-sendiri. Selamat Ulang Tahun, bikinlah `buah baju&#8217; yang santiang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palantaveteran17.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palantaveteran17.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palantaveteran17.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palantaveteran17.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palantaveteran17.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palantaveteran17.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palantaveteran17.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palantaveteran17.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palantaveteran17.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palantaveteran17.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palantaveteran17.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palantaveteran17.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palantaveteran17.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palantaveteran17.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=42&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/12/05/eko-ye-buah-baju-nan-santiang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2b598c5bd75a75a519f363983bef961?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Palanta Veteran17padang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/11/eko.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">eko</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Warga Palanta Berduka</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/22/warga-palanta-berduka/</link>
		<comments>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/22/warga-palanta-berduka/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Nov 2008 14:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Palanta Veteran17</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Dapua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palantaveteran17.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun talambek, warga Palanta Veteran 17 Padang manyampaikan salam dukacita kapado Zul Effendi, ateh bapulangnyo orang gaek awak baru-baru ko di Bukiktinggi. Mudah-mudahan arwah baliau ditarimo di tampek nan elok dek Allah SWT dan Zul Effendi basarato keluarga besar nan ditinggakan bisa tabah mahadoki cobaan ko, amiin ya rabbal alaamin.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=39&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>
<strong>Meskipun talambek, warga Palanta Veteran 17 Padang manyampaikan salam dukacita kapado Zul Effendi, ateh bapulangnyo orang gaek awak baru-baru ko di Bukiktinggi.</p>
<p>Mudah-mudahan arwah baliau ditarimo di tampek nan elok dek Allah SWT dan Zul Effendi basarato keluarga besar nan ditinggakan bisa tabah mahadoki cobaan ko, amiin ya rabbal alaamin.</strong>
</p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palantaveteran17.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palantaveteran17.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palantaveteran17.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palantaveteran17.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palantaveteran17.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palantaveteran17.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palantaveteran17.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palantaveteran17.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palantaveteran17.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palantaveteran17.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palantaveteran17.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palantaveteran17.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palantaveteran17.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palantaveteran17.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=39&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/22/warga-palanta-berduka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2b598c5bd75a75a519f363983bef961?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Palanta Veteran17padang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Eko Yanche Edrie:Mak Datuk Pemain Basket</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/20/eko-yanche-edriemak-datuk-pemain-basket/</link>
		<comments>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/20/eko-yanche-edriemak-datuk-pemain-basket/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 16:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Palanta Veteran17</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nan Takato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palantaveteran17.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[OBITUARI (Wartawan senior HKR Dt. P.Simulie) Saya diceritakan oleh Mak Datuk Simulie (HKR Dt. P.Simulie) tentang anak gadis sekarang yang kalau pakai celana panjang, bagian belakangnya biasa dibiarkan terbuka. Sehingga ‘sarawa kotok’nya terlihat. Kata Mak Datuk kepada saya: “Cubolah tulih tu, itu namonyo dek cando mah. Kok lai barasiah lo nan dipacaliakan tu lumayanlah, tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=36&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>OBITUARI (Wartawan senior HKR Dt. P.Simulie)</p>
<p>Saya diceritakan oleh Mak Datuk Simulie (HKR Dt. P.Simulie) tentang anak gadis sekarang yang kalau pakai celana panjang, bagian belakangnya biasa dibiarkan terbuka. Sehingga ‘sarawa kotok’nya terlihat. Kata Mak Datuk kepada saya: “Cubolah tulih tu, itu namonyo dek cando mah. Kok lai barasiah lo nan dipacaliakan tu lumayanlah, tapi kok kumuah?”<br />
<span id="more-36"></span><br />
Selang sebulan setelah Mak Datuk berkeluh kesah tentang ‘sarawa kotok’ tu, sayapun menulisnya dalam kolom ini. Saya tulis dengan judul ‘Mak Datuk, nih CD (celana dalam) gue’. Saya ungkapkan bahwa anak gadis sekarang seakan hendak ‘memanggakkan’ celana dalamnya kepada orang-orang tua. Seakan ia menantang Mak Datuk: “Mak Datuk, Nih CD Gue’</p>
<p>Besoknya Mak Datuk menelepon saya sambil ketawa yang cukup lama. Saya kira sudah lama Mak Datuk tidak ketawa lepas. “Kamanakan ado-ado se mah,” ujarnya di balik telepon. Lalu seperti biasa kami saling melempar joke.</p>
<p>Mak Datuk amat rapi menyimpan joke-joke yang kadang tak terduga. Dari yang serius (eh mana ada joke yang serius ya?) sampai yang kurang serius.  Tapi umumnya ia ingin mengajarkan kepada generasi dibawahnya  bahwa di balik joke tersimpan pesan mendalam.</p>
<p>Saat Mak Datuk dilantik lagi (setelah ‘nganggur’ karena tak cukup suara) jadi anggota DPRD untuk kedua kalinya, ia bilang kepada saya tentang sistem sepakbola. Menurutnya aturan yang terbaik itu ada di bola basket, bukan di sepakbola. Saya bingung, kemana tujuan pembicaraan Mak Datuk.</p>
<p>“Saya sekarang pemain basket, karena pemain basket yang sudah keluar boleh main kembali. Beda dengan sepakbola, setelah keluar, tidak boleh main lagi,” katanya. Mak Datuk seakan yakin bahwa saya bisa menangkap semua teka-tekinya. Padahal, jujur saja waktu itu saya masih kebingungan. Tapi saya icak-icak mengerti saja. Barulah setelah dua hari kemudian saya menyadari apa hubungan pemain basket itu dengan dirinya. Ia menganggap dirinya pemain basket ketika dilantik kembali jadi anggota DPRD.</p>
<p>Begitulah Mak Datuk. Kata Hasril Chaniago, ada dua yang jadi ensiklopedi berjalan dalam jagad wartawan Sumbar. Yang pertama adalah Chairul Harun dan yang kedua adalah HKR Dt. P.Simulie. Sepanjang hidupnya Mak Datuk memang mendedikasikan hadupnya untuk dunia jurnalis. Ia memberikan pembelajaran kepada yang muda-muda dengan cara ninik mamak. Pengajaran itu baru terasa setelah beberapa waktu.</p>
<p>Dalam banyak hal, memori Mak Datuk memang luar biasa. Ia mampu mengingat hal-hal kecil yang kadang jarang diingat orang. Suatu hari ia mengingatkan saya bahwa proklamasi kemerdekaan itu bukan dikumandangkan pada pukul 10.00 WIB, melainkan pukul 10.00 WD alias Waktoe Djawa. Karena tahun 1945 wilayah waktu belum dibagi atas WIB, WITA dan WIT. Di Padang weaktu itu masih dikenal Waktoe Soematra.</p>
<p>Sejak kemarin, dengan kerongkongan tercekat saya berbisik: “Kepada siapa lagi saya hendak bertanya Mak Datuk?” Beliau tidak meninggalkan pesan apa-apa tentang. Ia seperti sepakat bahwa wartawan harus belajar sendiri seperti dirinya dan para wartawan senior lainnya.</p>
<p>Mak Datuk, izinkan saya sebut nama lengkapmu: Haji Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie, kami kehilanganmu. Kami berharap namamu akan dikenang lebih panjang dari usiamu. Beristirahatlah dengan tenang!</p>
<p>[dikutip dari : http://ekopadang.wordpress.com]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palantaveteran17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palantaveteran17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palantaveteran17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palantaveteran17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palantaveteran17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palantaveteran17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palantaveteran17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palantaveteran17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palantaveteran17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palantaveteran17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palantaveteran17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palantaveteran17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palantaveteran17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palantaveteran17.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=36&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/20/eko-yanche-edriemak-datuk-pemain-basket/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2b598c5bd75a75a519f363983bef961?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Palanta Veteran17padang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hary B Kori’un: Sebuah Tamsil, Sebuah Catatan Harian</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/19/hary-b-kori%e2%80%99un-sebuah-tamsil-sebuah-catatan-harian/</link>
		<comments>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/19/hary-b-kori%e2%80%99un-sebuah-tamsil-sebuah-catatan-harian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 04:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Palanta Veteran17</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ciloteh Palanta]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[hary]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palantaveteran17.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[PERKEMBANGAN dunia kesusasteraan Indonesia, terutama puisi (sajak), cukup signifikan sejak tumbangnya rezim Orde Baru. Para sastrawan dan penyair tak perlu pusing lagi dengan sensor dan batasan, karena yang menjadi sensor adalah masyarakat, pembaca: jika karya itu dibaca orang, maka dia akan hidup. Tetapi jika karya itu tak mampu memikat pembacanya, maka dengan sendirinya sensor alam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=30&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/11/harybkoriun.jpg"><img src="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/11/harybkoriun.jpg?w=477" alt="harybkoriun" title="harybkoriun"   class="alignright size-full wp-image-33" /></a>PERKEMBANGAN dunia kesusasteraan Indonesia, terutama puisi (sajak), cukup signifikan sejak tumbangnya rezim Orde Baru. Para sastrawan dan penyair tak perlu pusing lagi dengan sensor dan batasan, karena yang menjadi sensor adalah masyarakat, pembaca: jika karya itu dibaca orang, maka dia akan hidup. Tetapi jika karya itu tak mampu memikat pembacanya, maka dengan sendirinya sensor alam sudah berlaku.<span id="more-30"></span></p>
<p>Di masa kini, penyair-penyair berbakat lahir dan tumbuh. Ada yang mampu mencapai puncak estetikanya, ada juga yang tumbang di tengah jalan. Maka, nama-nama seperti Joko Pinurbo, Raudal Tanjung Banua, Gunawan Maryanto, I Wayan Sunarta, Marhalim Zaini, Dina Oktaviani, Jimy Maruli Alfian, Hasan Aspahani, Ramon Damora, Aan Mansyur, Zen Hae (sekedar menyebut nama) dan masih banyak lagi, adalah penyair generasi terkini yang mampu menghadapi sensor masyarakat tersebut sehingga karya-karyanya mampu bertahan dalam “tipisnya udara” dunia sajak Indonesia. Mereka tak harus berhadapan dengan sensor politik dan harus melawan tirani seperti apa yang dilakukan oleh para pendahulunya.</p>
<p>Tetapi, apakah dengan berbagai keterbatasan, baik politik atau ekonomi, membuat penyair berhenti berkarya? Kebebasan berekspresi yang selama hampir tiga puluh tahun dibatasi, dikebiri dan dikerangkeng dengan alasan yang sumir, absurd, ambigu dan tak mendasar, memang membuat kreativitas penyair menjadi terbatas. Namun begitu, justru dalam kondisi terbatas tersebut, mereka yang berkutat dalam bidang ini terus survive dan selalu berkarya. Sebab, tidak semua karya sastra selalu bersinggungan dengan politik, agama dan pornografi, tiga hal yang selalu diawasi oleh Orde Baru. Oleh karena itu, tetap muncul penyair-penyair avan garde yang terus berkarya. Karya-karya Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail, Goenawan Mohammad, WS Rendra, Abdul Hadi WM, Afrizal Malna, Wiji Tukul –yang akhirnya hilang dan menjadi martir perjuangan sastra—dan yang lain tetap lahir dan terus lahir.</p>
<p>Tetapi, apakah para penyair tersebut “lolos” dari sensor Orde Baru karena menjauhkan sastra (sajak/puisi) dari realitas sosial masyarakatnya? Sebagian iya dan sebagian terus melakukan perlawanan meski sajak-sajak mereka cenderung dianggap sebagai “sajak famlet”, yang oleh sebagian kalangan, terutama mereka yang mengaku pendukung setia dan mengagungkan estetika di atas segalanya dalam sastra, dianggap sajak tanpa makna dan hanya cocok untuk mereka yang turun di jalanan, demonstran. Namun pada masa tertentu, tahun 1970-1990-an, ketika kekuasan Orde Baru dengan Soeharto sebagai tokoh utamanya, sajak-sajak jenis ini yang dengan verbal menyuarakan masyarakat kelas bawah dan tertindas, baik secara politis maupun ekonomi, tumbuh subur dan mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat. Salah satu tokohnya, WS Rendra, begitu populer dan dianggap “pahlawan” oleh kalangan bawah sebagaimana Iwan Fals yang hampir sewaktu dengan Rendra, muncul sebagai tokoh perlawanan di atas pentas musik pengkritik Orde Baru dengan lagu-lagu sosialnya.</p>
<p>Menariknya, hampir segenerasi dengan Rendra dan Iwan, juga muncul genre sajak “yang membebaskan kata dari makna”, alias sajak yang menempatkan kata-kata sebagai kekuatan dan alat perlawan tersendiri dalam dunia sastra. Genre ini dipelopori oleh Sutardji Calzoum Bachri, yang kemudian diikuti oleh beberapa penyair dari tanah Melayu seperti Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, dan yang lainnya. Dalam Kredo Puisi yang ditulisnya, Sutardji menjelaskan bahwa kata telah memiliki kekuatannya sendiri dan harus dilepaskan dari beban maknanya. Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Oleh kalangan pengkritiknya, genre ini dianggap sebagai sastra yang egois, karena tidak mengakar pada persoalan sosial dan kultur masyarakatnya. Mereka hanya bermain dengan kata-kata sementara masyarakat kehilangan sistem sosial, kelaparan, hak politiknya dikebiri dan sebagainya.</p>
<p>Ketika membela diri saat menerima Bakrie Award 2008, Sutardji kembali menjelaskan bahwa sajak-sajaknya bukan sajak aktivis, dirinya juga bukan aktivis atau politikus sehingga kritikan banyak pihak terhadap dirinya saat menerima penghargaan dari keluarga besar Ahmad Bakrie atas dedikasinya terhadap perkembangan kebudayaan tersebut, dianggapnya salah alamat. Menurut Tardji, persoalan sastra, termasuk sajak-sajaknya, harus dilihat dan dipandang tersendiri dan tidak dicampur-adukkan dengan persoalan Lumpur Lapindo yang menenggelamkan Sidoarjo dan menimbulkan persoalan sosial yang luar biasa itu. Meskipun tudingan bahwa dirinya dianggap tidak memiliki solidaritas sosial dengan korban Lapindo, Tardji tetap bersikukuh bahwa pencapaian estetika yang telah diraihnya selama ini adalah sebuah perjuangan tersendiri yang tak bisa dikecilkan hanya karena persoalan sosial seperti Lapindo.</p>
<p>Di waktu yang bersamaan dengan genre Rendra dan Tarji tersebut, juga muncul apa yang dinamakan sebagai sastra profetik, yakni sastra yang digunakan sebagai alat dakwah dan ibadah. Tokoh-tokoh genre sastra ini antara lain Abdul Hadi WM, Kuntowidjoyo, D Zawawi Imron dan Danarto. Menurut mereka, sastra, dan di dalamnya puisi, cerpen, atau novel juga bisa menjadi alat dakwah dan ibadah untuk kemaslahatan diri sendiri maupun manusia yang lain. Tak banyak dan nyaris tak ada yang mengkritik secara mendalam ketika genre ini dimunculkan dan dianggap sebagai bagian dari sastra yang berhak hidup dan bahkan kemudian malah mendapatkan tempat yang layak dan lapang hingga saat ini. Ketika novel Ayat-ayat Cinta Habiburrahman El-Sirazzy laris seperti kacang goreng, bermunculan juga karya-karya senapas dan sealiran yang mengekor di belakangnya.</p>
<p>Namun, sebelum meledaknya Ayat-ayat Cinta, dunia sastra profetik (sastra islami, jika ini juga bisa disebut genre)  sudah lumayan mendapat tempat yang digerakkan oleh sebuah kelompok sastra islami, yakni Forum Lingkar Pena. Ayat-ayat Cinta dan sejenisnya adalah puncak dari “pesta” sastra genre ini, padahal di awal tumbuhnya banyak membidik kalangan remaja dengan Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dan beberapa penulis lain sebagai penggeraknnya.</p>
<p>Tiga genre sastra yang tumbuh saat Orde Baru itu menjadi tonggak bahwa perkembangan sastra Indonesia (terutama puisi/sajak) penuh dinamika dan menarik untuk dibuat studi yang mendalam, yang tidak bisa diuraikan panjang-lebar dalam tulisan ini.</p>
<p>        ***</p>
<p>BUKU Tamsil Syair Api ini merupakan kumpulan dari sajak-sajak para penyair yang dimuat selama setahun di rubrik “Budaya” Harian Riau Pos (Oktober 2007-September 2008). Ada penulis yang sudah tunak makan asam-garam dunia kepenulisan, karyanya sudah tersebar di berbagai media dan sudah memiliki buku kumpulan tunggal hngga penyair pemula, mulai dari Fakhrunas MA Jabbar, Marhalim Zaini, Mila Duchlun, M Badri, Sobirin Zaini, Isbedy Stiawan ZS, Pandapotan MT Siallagan, Dian Hartati, Jefy al Malay, Murparsaulian, Ramon Damora, Yose Rizal Zen, Budy Utamy, Esha Tegar Putra, Dhien Zurindah, Syaiful Bahri, hingga generasi terbaru di bidang sajak seperti Wetry Febrina atau Alvi Puspita.</p>
<p>Galibnya sebuah kumpulan bersama, beragam estetika, pencapaian, cara pandang hingga roh dari sajak tersebut juga menjadi berbeda-beda. Tetapi pada intinya adalah, kolase beragam pencapaian tersebut menjadi menarik berada dalam sebuah buku, ketika kita memahaminya sebagai pembaca juga melihat dan membacanya bukan dengan kaca mata yang seragam. Membaca sajak Fakhrunas misalnya, jelas berbeda dengan cara membaca sajak Alvi. Juga berbeda lagi dengan bagaimana membaca sajak Marhalim, M Badri, atau Budy Utamy. Pembaca juga harus memiliki kekhasan cara baca terhadap karya yang berbeda, karena menurut Afrizal Malna, puisi adalah sebuah medan bagaimana kita menulis atau membacanya. Kedudukan penyair dan pembaca sama pentingnya, keduanya berada dalam otoritas yang sama dalam mendekati puisi.</p>
<p>Menurut Prof Dr Nyoman Khuta Ratna, karya seni bersifat imajinasi, personal dan khas. Tetapi genesis karya seni yang sesungguhnya pada dasarnya adalah bagian dari struktur sosial. Karya seni lahir melalui interaksi kelompok tertentu dengan memanfaatkan peranan medium bahasa.  Pada tahap yang  inilah karya seni dengan berbagai dimensinya, termasuk stilistika, dianggap sebagai manifestasi masyarakat, sebagai kualitas transindividu. Tujuan karya seni, termasuk puisi,  adalah kualitas estetika. Interpretasi diperlukan oleh karena kata, kalimat dan wacana tidak mampu menerjemahkan semua maksud penulis. Imajinasi harus dirasakan oleh penikmat, sebagai imajenasi terbagi. Pada gilirannya estetika juga bersifat sosiologis, dihasilkan melalui mekanisme interaksi sosial, diresepsi secara sosial. Karya seni yang secara keseluruhan bersifat individual justru tidak mungkin untuk dipahami. Pemahaman ini memang berbeda dari apa yang diyakini Tardji, tetapi dalam sastra, perbedaan seperti sangat wajar dan sah-sah saja.</p>
<p>Pekerjaan membaca karya, kemudian menyeleksinya dan memuatnya untuk cetak di koran dan kemudian dipilih lagi untuk dibukukan seperti dalam buku ini, sekilas adalah pekerjaan yang gampang dan ringan. Namun sebagai ritual yang setiap hari, setiap pekan, setiap bukan dan setiap tahun dilakukan, kadang muncul rasa bosan yang sering mengganggu. Bosan dalam hal ini bukan karena kemalasan, tetapi lebih pada apakah ketika sajak/puisi ini dipilih sedemikian rupa dan kemudian dicetak di halaman koran, ada yang memperhatikannya. Juga, ketika kemudian diseleksi lagi dan dibukukan dalam bentuk buku serupa ini, apakah ada yang peduli, mau membacanya, atau malah mau mengapresiasinya?</p>
<p>Menulis sajak/puisi bagi penyair adalah sebuah pekerjaan besar, karena imajinasi dan ilham yang datang kepada seseorang tidak didapatkan dengan menunggu dan merenung berhari-hari, tetapi merupakan hasil sebuah pencarian intelektual. Sajak/puisi adalah hasil dari pergulatan intelektual yang bahkan mungkin dilakukan tidak dalam hitungan bulan, tetapi mungkin malah bertahun-tahun. Ada penyair yang bisa menulis sajak dalam hitungan jam, tetapi ada juga penyair yang memerlukan waktu lebih lama lagi. Biasanya, semakin lama pergulatan intelektual dan pengendapan berlangsung, karya yang dihasilkan juga relatif lebih baik. Tetapi, semua tetap tergantung pada kadar kemampuan sang penyair yang tentu berbeda-beda.</p>
<p>Maka, dengan segala keterbatasan, pekerjaan menyunting sajak sangat berbeda dengan karya-karya prosa semacam novel atau cerpen. Sajak/puisi adalah karya yang ‘sangat individualis’, di mana licentia poetica (kebebasan penyair untuk ‘penyimpang’ dari hukum tata-bahasa) sangat dihormati. Maka, kadang membedakan karya yang sudah eksis dengan yang masih mencari-cari dan kadang malah mencoba mencari yang aneh-aneh, sangat sulit. Tetapi, penyunting tetap berpegang pada sebuah hukum dunia melukis, bahwa seorang pelukis aliran surialis harus ‘lulus’ terlebih dahulu pelajaran dasar, yakni realis. Jika dia belum bisa menggambar mata, hidung, pipi, atau pemandangan dengan baik dan kemudian dia melukis dengan gaya surialis, bagaimana dia bisa menyuruh orang lain memahami lukisannya? Dan bagaimana dia bisa memahami lukisannya sendiri?</p>
<p>Dunia sajak juga begitu. Seorang calon penyair harus memahami hukum tata-bahasa dan segala perangkat bahasa lainnya dengan benar sebelum dia bermain kata-kata dengan sajaknya. Dia harus bisa membedakan penulisan “ke rumah” dengan “kerumah” sebelum bisa menjelaskan kepada orang bahwa “kerumah” yang dimaksudnya dalam sajak, berbeda dengan “ke rumah” dalam arti harfiah. Kelemahan para penulis/penyair pemula adalah, mereka mengabaikan hukum bahasa dan menganggap dengan menulis sajak, bahasa bisa ditulis dengan seenaknya. Tardji bisa menemukan kredo dirinya sendiri karena dia sudah lulus di tahap pertama.</p>
<p>Di luar persoalan itu, dengan segala keterbatasan akibat pemerintah Orde Baru yang represif, para penyair ketika itu tetap kreatif menghasilkan karya-karya dalam berbagai genre. Kini, ketika kebebasan berekspresi, termasuk dalam dunia sastra, dibuka lebar-lebar, semestinya karya yang dihasilkan juga bisa lebih baik lagi. Begitu juga bagi mereka yang tinggal di Riau, persoalan sosial dan budaya yang kini dihadapi masyarakat semestinya juga bisa menjadi ilham untuk berkarya lebih baik lagi.</p>
<p>Buku ini,  mungkin hanya sebuah catatan tahunan, tetapi lebih dari itu adalah sebagai sebuah bukti sejarah di masa datang, bahwa dunia sastra (sajak/puisi) di Riau tetap hidup dan terus melakukan sesuatu. Hal ini penting, karena sejarah tak akan berarti apa-apa tanpa catatan seperti ini dan bukti otentik lainnya. Mengapa sejarah menjadi penting? Karena dia bisa menjadi pelajaran dan alat perbandingan bagi masyarakat sekarang, baik tentang segala kebaikan maupun segala keburukan. Ya, buku ini bisa jadi hanya sebuah catatan, tetapi mungkin juga bisa menjadi tamsil, tentang dunia yang penuh metafor yang diendapkan dalam sajak-sajak.***</p>
<p>Hary B Kori’un, adalah wartawan Riau Pos dan editor Kumpulan Sajak Tamsil Syair Api.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palantaveteran17.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palantaveteran17.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palantaveteran17.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palantaveteran17.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palantaveteran17.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palantaveteran17.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palantaveteran17.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palantaveteran17.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palantaveteran17.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palantaveteran17.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palantaveteran17.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palantaveteran17.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palantaveteran17.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palantaveteran17.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=30&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/19/hary-b-kori%e2%80%99un-sebuah-tamsil-sebuah-catatan-harian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2b598c5bd75a75a519f363983bef961?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Palanta Veteran17padang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/11/harybkoriun.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">harybkoriun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malapeh Taragak</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/11/check-out-my-slide-show/</link>
		<comments>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/11/check-out-my-slide-show/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 07:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Palanta Veteran17</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/11/check-out-my-slide-show/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=26&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><embed src='http://widget-ac.slide.com/widgets/slideticker.swf' type='application/x-shockwave-flash' quality='high' scale='noscale' salign='l' wmode='transparent' flashvars='site=widget-ac.slide.com&channel=2882303761534299052&cy=wp&il=1' width='426' height='320' name='flashticker' align='middle' /><div style='width: 426px;text-align:left;'><a href='http://www.slide.com/pivot?ad=0&tt=0&sk=0&cy=wp&th=0&id=2882303761534299052&map=1' target='_blank'><img src='http://widget-ac.slide.com/p1/2882303761534299052/wp_t000_v000_a000_f00/images/xslide1.gif' border='0' ismap='ismap' /></a> <a href='http://www.slide.com/pivot?ad=0&tt=0&sk=0&cy=wp&th=0&id=2882303761534299052&map=2' target='_blank'><img src='http://widget-ac.slide.com/p2/2882303761534299052/wp_t000_v000_a000_f00/images/xslide2.gif' border='0' ismap='ismap' /></a></div></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palantaveteran17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palantaveteran17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palantaveteran17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palantaveteran17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palantaveteran17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palantaveteran17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palantaveteran17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palantaveteran17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palantaveteran17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palantaveteran17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palantaveteran17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palantaveteran17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palantaveteran17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palantaveteran17.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=26&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/11/check-out-my-slide-show/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2b598c5bd75a75a519f363983bef961?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Palanta Veteran17padang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indra Nara Persada :Inilah 236 nama Rang Singgalang</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/11/indra-nara-persada-inilah-215-nama-rang-singgalang/</link>
		<comments>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/11/indra-nara-persada-inilah-215-nama-rang-singgalang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 02:01:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Palanta Veteran17</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ciloteh Palanta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palantaveteran17.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Jadinya, 236 nama Rang Singgalang (bukan 215 seperti pertama kali saya kirimkan), khususnya di jajaran Redaksi plus unsur pimpinan dan pemegang saham. Tambahan 21 nama berasal dari Atviarni 4 nama, Hary B Kori&#8217;un 2 nama, dan 15 nama `nan baru takana&#8217; alias baru saya dapatkan. Namun masih saja ada `nan alun takana&#8217; bagi saya. (Di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=8&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadinya, 236 nama Rang Singgalang (bukan 215 seperti pertama kali<br />
saya kirimkan), khususnya di jajaran Redaksi plus unsur pimpinan dan<br />
pemegang saham. Tambahan 21 nama berasal dari Atviarni 4 nama, Hary B<br />
Kori&#8217;un 2 nama, dan 15 nama `nan baru takana&#8217; alias baru saya<br />
dapatkan. Namun masih saja ada `nan alun takana&#8217; bagi saya. (Di<br />
antara 236 orang ini juga ada koreksian data)<br />
<span id="more-8"></span><br />
Nama-nama ini sekadar `mangana-ngana nan salaruik salamo nangko&#8217;.<br />
Tidak dibedakan antara yang sudah keluar atau yang masih di<br />
Singgalang, antara yang lama ataupun yang baru. Disusun urut-abjad.<br />
Kalau ada yang terlupa, indak tasurek-an, data yang salah ataupun<br />
kurang tepat, penulisan nama yang tidak semestinya, mohon sangat<br />
dimaafkan. Untuk itu, tolong malah dikoreksi dek dunsanak kasado-<br />
alahe.</p>
<p>1.	Abdul Halim Yunus – mantan Koresponden di Pesisir Selatan<br />
2.	Abrar Khairul Ikhirma/Arkhi – mantan Redaktur Koran Masuk<br />
Sekolah<br />
3.	Abrar Yusra – mantan Redaktur Pelaksana, kini di Jakarta<br />
4.	Achmad Jalinus – Baso, mantan Reporter<br />
5.	Achyar Sikumbang/Tan Baro – Padang<br />
6.	Adek Rossyie Mukri/Supriadi Mukri – Bukittinggi/Agam<br />
7.	Adi Bermasa – Padang, mantan Redaktur Pelaksana, kini<br />
Redaktur Senior<br />
8.	Adi Hazwar – Padang, Reporter<br />
9.	Afdal – Jambi, mantan Reporter<br />
10.	Afrimen MN – mantan Staf Redaksi, kini di Dumai<br />
11.	Afrinal Aliman – Padang, mantan Fotografer<br />
12.	Afrizal Koto – Bukittinggi/Agam<br />
13.	Ahmad Ibrahim – mantan pemasaran Singgalang, terakhir sbg<br />
Reporter di Medan<br />
14.	Ahmad Sumardi – Koordinator Daerah Agam<br />
15.	Akmal Darwis – Padang, mantan Redaktur, kini jadi pengusaha<br />
16.	Alfian Zainal – mantan Staf Redaksi, kini di `Tribun Batam&#8217;,<br />
Batam<br />
17.	Ali Akbar Navis/AA Navis (alm) – selain banyak menulis di<br />
Singgalang, AA Navis pernah menjadi Manajer Penerbitan PT Genta<br />
Singgalang Press<br />
18.	Amiruddin – Padang, mantan Staf Redaksi, kini Penasehat Hukum<br />
dan Supervisi Personalia<br />
19.	Amrin ….. (alm) – Jakarta<br />
20.	Ananda Utama – Koordinator Daerah Padang Panjang<br />
21.	Anwar Lanjumin – Pasaman, mantan Reporter<br />
22.	Anwar Muin/Uwan/One (alm) – Painan, mantan Reporter<br />
23.	Anwar Thahar – Padang, mantan Redaktur<br />
24.	Apsek – Jakarta, mantan Reporter khusus artis dan hiburan<br />
25.	Arizal – Padang, Reporter<br />
26.	Arizal Oce (alm) – Padang, mantan Reporter<br />
27.	Armadison – Padang, Reporter<br />
28.	Armen (alm) – Padang, mantan Reporter<br />
29.	Armidas Moenir – Bukittinggi/Agam, mantan Koresponden<br />
30.	Asbon Budinan Haza – mantan Pemred Edisi Khusus Koran Masuk<br />
Sekolah<br />
31.	Aslim (alm) – Solok, mantan Reporter<br />
32.	Asmar – Padang, mantan Reporter<br />
33.	Asnelli Ridha Daulay – mantan Staf Redaksi, kini di Dinas<br />
Peternakan Jambi<br />
34.	Asraferi Sabri (Afess Muhammad) – mantan Staf Redaksi, kini<br />
Wali Nagari Pasie, Agam<br />
35.	Asri Rosdi/Katik – mantan Redaktur Koran Masuk Sekolah<br />
36.	Asrial Gindo – Koordinator Daerah Bukittinggi<br />
37.	Asril Anwar – Bukittinggi<br />
38.	Asril Joni – mantan Redaktur, kini di Jakarta<br />
39.	Asrul Rayders – Padang, mantan Reporter<br />
40.	Atviarni Yusbar – Padang, mantan Staf Redaksi, kini<br />
di `Mimbar Minang&#8217;<br />
41.	Awaluddin Awe – kini di Batam<br />
42.	Azmeyeda Makmur – Sijunjung, mantan Reporter<br />
43.	Bachrum Ronny Arifin – mantan Redaktur, kini di Bogor<br />
44.	Bachrum Yonda Djabar – pemegang saham, mantan Pemimpin<br />
Perusahaan, kini Wakil Pemimpin Umum dan Ketua Dewan Redaksi<br />
45.	Bakhtiar Danau – Batusangkar, Koordinator Daerah Tanah Datar<br />
46.	Basril Basyar – mantan Staf Redaksi, kini Ketua PWI Sumbar<br />
47.	Basril Djabar – pemegang saham, mantan Pemimpin Redaksi, kini<br />
Pemimpin Umum dan anggota Dewan Redaksi<br />
48.	Bastian W Sompie – mantan Pemimpin Perusahaan dan anggota<br />
Dewan Redaksi<br />
49.	Ben Ibratama Tanur – mantan Redaktur, kini caleg DPR-RI dari<br />
Partai Indonesia Sejahtera, beralamat di Depok<br />
50.	BG Sikumbang – Pariaman, mantan Reporter<br />
51.	Boby Lukman – mantan Redaktur, kini Peneliti Politik dan<br />
Parlemen Lokal YHB Indonesia, Jakarta<br />
52.	Brian Hariadi Tamon/Ong – Jakarta, mantan Reporter<br />
53.	Budi Putra – mantan Redaktur, mantan wartawan Tempo News Room<br />
dan Koran Tempo di Jakarta, kini mengelola beberapa blog-internet<br />
54.	Budiwarman – Lubuk Sikaping/Pasaman, mantan Reporter<br />
55.	By Kati – Pariaman, mantan Reporter<br />
56.	Chairul Harun (alm) – mantan Wapemred dan Ketua Dewan Redaksi<br />
57.	Chun Masido – Koordinator Daerah Bukittinggi<br />
58.	Darlis Syofyan – mantan Koordinator Liputan dan Wakil<br />
Pemimpin Perusahaan, kini Wakil Pemimpin Umum dan anggota Dewan<br />
Redaksi<br />
59.	Darmansyah – Koordinator Daerah Pariaman<br />
60.	Darmijas Majid – mantan Staf Redaksi, kini Kepala Perpustakaan<br />
61.	Darmius – Muaro Sijunjung, mantan Reporter<br />
62.	Dede Amri – Padang, Reporter<br />
63.	Deliwar Tahar (alm) – Jakarta, mantan Reporter<br />
64.	Denni Risman – Padang, mantan Fotografer, kini Koresponden<br />
SCTV di Sumbar dan GM Favorit TV<br />
65.	Dodi Nurja – Padang, mantan Koresponden di Painan, kini di<br />
Mimbar Minang<br />
66.	Edi Gope (alm) – Pariaman, mantan Reporter<br />
67.	Edi Suardi (Mak Etek) – Padang, mantan Redaktur<br />
68.	Edwar DF – Padang, Redaktur<br />
69.	Edwardi – Koordinator Daerah Kabupaten Solok<br />
70.	Edy Utama – Padang, mantan Redaktur<br />
71.	Effendi – Padang, Reporter<br />
72.	Eki Hari Purnama – mantan Reporter, kini di Payakumbuh<br />
73.	Eko Yanche Edrie – Padang, mantan Redaktur Liputan, kini<br />
Redaktur Pelaksana `Haluan&#8217;<br />
74.	Elvi Susanti – mantan Reporter di Padang, kini di Jakarta<br />
(istri Budi Putra)<br />
75.	Epriwan – Sijunjung, mantan Reporter<br />
76.	Eri Satria Darma – Jakarta, Reporter<br />
77.	Eriandi – Padang, Reporter<br />
78.	Erizal Effendi – Padang, mantan Reporter<br />
79.	Erman Tasrial (alm) – Padang, mantan Reporter<br />
80.	Evi Endri/Ombak – mantan Staf Redaksi dan Koresponden di<br />
Pesisir Selatan<br />
81.	Fachrul Rasyid HF – mantan Koordinator Liputan, kini<br />
Koresponden Majalah `Gatra&#8217;<br />
82.	Fifi Suryani – Padang, Redaktur<br />
83.	Gusfen Khairul – mantan Redaktur, kini Koresponden RCTI di<br />
Sumbar dan caleg DPRD<br />
84.	Gusliyanti – Padang, Reporter<br />
85.	Gusnaldi Saman – Koordinator Daerah Pariaman<br />
86.	Guspayendri – Padang, Redaktur<br />
87.	Hambali Syarkawi – mantan Reporter, kini di Depag Sumbar<br />
88.	Hamid Jabbar (alm) – mantan Redaktur, terakhir berdomisili di<br />
Jakarta<br />
89.	Hardimen Koto – mantan Redaktur, kini Komentator Olahraga,<br />
dll, di Jakarta<br />
90.	Hartono – Padang, Redaktur<br />
91.	Hary B Kori&#8217;un – mantan Staf Redaksi, kini Redpel<br />
Harian `Riau Pos&#8217; Pekanbaru<br />
92.	Hasbullah Ahmad/Has Ahmad/Aciak – Bukittinggi/Agam, pernah<br />
ditempatkan di Lubuk Sikaping, mantan Koresponden<br />
93.	Hasril Chaniago – mantan Redaktur Pelaksana, terakhir sbg<br />
Pemred Mimbar Minang<br />
94.	Hendrivon – Koordinator Daerah Solok Selatan<br />
95.	Herlambang Fajar – mantan Staf Redaksi, kini di …..<br />
96.	Ida Yani Nasroen – mantan Staf Redaksi, kini di Jakarta<br />
97.	Imran Rusli – mantan Staf Redaksi, kini di Pekanbaru<br />
98.	Indomer – Payakumbuh/50 Kota<br />
99.	Indra Nara Persada – kini di Depok<br />
100.	Indra Sakti – Koordinator Daerah Pariaman<br />
101.	Indra Sakti Nauli – Padang, mantan Reporter<br />
102.	Ismet Fanany MD – Padang, mantan Redaktur, kini Redaktur<br />
di `Haluan&#8217;<br />
103.	Iva Tureyza Idroes – mantan Reporter khusus rubrik<br />
Wanita/Mode, kini Kepala Bagian Iklan<br />
104.	Jamalis Sutan Permato – Bandung<br />
105.	Jamil Dagang – Selat Panjang, mantan Reporter<br />
106.	Jamilus Dt R Batampat – Muaro Labuh, mantan Reporter<br />
107.	Jaratan – Batusangkar/Tanahdatar, mantan Reporter<br />
108.	Jasriman – Koordinator Daerah Padang Panjang<br />
109.	Jayusdi Effendi – Pariaman, mantan Reporter, kini di Pos<br />
Metro, Padang<br />
110.	Jhon Kennedy – Payakumbuh/50 Kota, mantan Reporter<br />
111.	Jhoned Chan – Jambi, mantan Reporter<br />
112.	Juss Parmato Intan – Jakarta, Koresponden<br />
113.	Kardinal Munir – mantan Staf Redaksi, kini di Jakarta<br />
114.	Kasnadi NP – Bukittinggi/Agam, mantan Reporter<br />
115.	Khairul Jasmi – mantan wartawan Semangat, koresponden<br />
Republika, kini Pemred Singgalang dan anggota Dewan Redaksi<br />
116.	Khudri – Lubuk Basung, mantan Reporter<br />
117.	Latif Hasan – Jambi, mantan Reporter<br />
118.	Lindo Karsyah – mantan Kepala Desk/Redaktur, kini Redpel<br />
Harian Media Umum `Riau Pesisir&#8217; di Dumai<br />
119.	Lukman – Lubuk Basung, mantan Reporter<br />
120.	Luna Agustin – mantan Staf Redaksi, kini di Pekanbaru<br />
(kelompok Riau Pos)<br />
121.	Luzi Diamanda – mantan Redaktur, pernah di `Riau Mandiri&#8217;,<br />
(istri Asraferi)<br />
122.	M Dt Sati – Pasaman, mantan Reporter<br />
123.	M Joesfik Helmy (alm) – Padang, terakhir sbg Redaktur dan<br />
Wakil Pemimpin Perusahaan<br />
124.	M Junir – Koordinator Daerah Pasaman<br />
125.	M Zen Dt Bandaro – Solok, mantan Reporter<br />
126.	Maifil Eka Putra – mantan Reporter, mantan Koresponden<br />
Majalah Ummat, kini Kepala Divisi Publishing PT Inmark Komunika di<br />
Jakarta, dan `ngeblog&#8217; di http://palantaveteran17.wordpress.com/<br />
127.	Maizar Dt Tantamo – Jakarta, mantan Reporter<br />
128.	Maizar Rangkuty – Batusangkar, mantan Reporter<br />
129.	Marjeni Rokcalva – mantan Reporter<br />
130.	Marlison – Koordinator Daerah Pesisir Selatan<br />
131.	Martin Hamid – Solok, mantan Reporter<br />
132.	Marwan Zein – Jakarta, mantan Reporter<br />
133.	Marzie Thamrin (alm) – mantan Koresponden Padang Pariaman dan<br />
pengisi rubrik tetap `Cimeeh Piaman&#8217; Edisi Minggu<br />
134.	Masful – Padang, mantan Reporter, kini di DPRD Sumbar<br />
135.	Me Djabar – pemegang saham dan Wakil Pemimpin Umum<br />
136.	Melda Riani – Padang, Reporter<br />
137.	Metrizal – Padang, Redaktur<br />
138.	Muazim Syair – Palembang, mantan Reporter<br />
139.	Muchlis Sulin Dt Marajo Basa (alm) – Padang, terakhir sbg<br />
Wapemred<br />
140.	Muhammad Fitrah – Padang, Fotografer<br />
141.	Muhammad Ibrahim Ilyas – Padang, mantan Redaktur dan Pempers<br />
di KMS `Edisi ABH&#8217;<br />
142.	Mursyid Y Sonsang – mantan Reporter, kini Koresponden RCTI di<br />
Jambi<br />
143.	Mursyidi – Koordinator Daerah Agam<br />
144.	Muslih Sayan – Padang, mantan Redaktur Pelaksana, kini di<br />
Mimbar Minang<br />
145.	Musriadi Musanif – Padang, Kepala Desk Khusus/Redaktur<br />
146.	Nasril Zainun/Buya – Payakumbuh/50 Kota, terakhir di Solok,<br />
mantan Koresponden<br />
147.	Nasrul Chandra – Solok Selatan, mantan Reporter<br />
148.	Nasrul Rasyad – Koordinator Daerah Sawahlunto Sijunjung<br />
149.	Nasrul Siddik – pendiri dan pemegang saham awal Singgalang,<br />
mantan PU/Pemred, terakhir sbg Wakil PU, lalu pindah/mendirikan Canang<br />
150.	Nasrun Chatib – Padang, mantan Redaktur, sudah pensiun<br />
151.	Naswardi – Padang, Redaktur<br />
152.	Nazif Basir – pendiri dan pemegang saham awal Singgalang,<br />
kini di Jakarta<br />
153.	Nilakusuma – Padang, mantan Sekretaris Redaksi dan Redaktur,<br />
sudah pensiun<br />
154.	Nilwan Bata/Nilwan Balai Talang – Payakumbuh/50 Kota<br />
155.	Noer W St Mudo – Solok Selatan, mantan Reporter<br />
156.	Nusyirwan – Bangkinang, mantan Reporter<br />
157.	Nusyirwan – Padang, mantan Staf Redaksi<br />
158.	Nusyirwan Damhoeri Dt Mangkudun – mantan Koresponden<br />
Bukittinggi/Agam, lalu pindah ke Tanjung Pinang<br />
159.	Osman Purba – Bukittinggi/Agam, mantan Reporter<br />
160.	Putri Juita – Sekretaris Redaksi<br />
161.	Ramadhan – Jakarta, mantan Reporter<br />
162.	Ramlie Karlen (alm) – terakhir menjabat Wapempers Singgalang<br />
163.	Ratna Yunita – Jakarta, mantan Reporter<br />
164.	Rendra – Koordinator Daerah Payakumbuh/50 Kota<br />
165.	Replianto – mantan Staf Redaksi, kini Koresponden RCTI dan<br />
Redpel Tabloid `Metro&#8217; di Pangkal Pinang, Bangka Belitung<br />
166.	Richardi Akbar – Padang. Mantan Reporter<br />
167.	Rika Yosmeri – Padang, mantan Reporter, kini Kabag Pemasaran<br />
168.	Rilianty – Padang, Wakil Pemimpin Perusahaan<br />
169.	Rina Morita – mantan Staf Redaksi, kini di Dinas Pertanian<br />
Pariaman<br />
170.	Rito – Solok, mantan Reporter<br />
171.	Rory Halimis – Jakarta, mantan Reporter<br />
172.	Rosnelly – Padang, mantan Sekretaris Redaksi, kini Sekretaris<br />
Pemimpin Umum<br />
173.	Rousman Maulana – Bengkulu, mantan Reporter<br />
174.	Rusdi Bais – Padang, mantan Staf Redaksi, kini Redaktur<br />
di `Haluan&#8217;<br />
175.	Rusli Dahlan – Jakarta, terakhir sbg Penasehat Singgalang;<br />
rumahnya di Jl Cisadane, Cikini, Jakarta merupakan tempat pertama<br />
Kantor Perwakilan Usaha<br />
176.	Rustam Anwar (alm) – ketika memiliki NV Nusantara di<br />
Bukittinggi, Rustam Anwar memberi kesempatan kepada Singgalang di<br />
masa-masa awal untuk bisa terbit/dicetak dengan cara awak samo awak<br />
177.	Salius Sutan Sati – Padang, pendiri dan pemegang saham awal<br />
Singgalang, mantan Pemred, terakhir sbg Wakil PU, lalu<br />
pindah/mendirikan Canang<br />
178.	Sawir Pribadi – Padang, Kepala Desk/Redaktur<br />
179.	SH Dt Limpatiah – Situjuh, 50 Kota, mantan Reporter<br />
180.	Shofwan Karim Elha – Padang, mantan Redaktur Tamu, penulis<br />
produktif utk Singgalang, kini Rektor UMSB<br />
181.	Sjafrial Arifin – mantan Redaktur Pelaksana, mantan wartawan<br />
Tempo, mantan redaktur Majalah Zaman, mantan Koresponden Singgalang<br />
di Jakarta, kini di Depok<br />
182.	Soeparto Har – Jakarta, Kepala Perwakilan Usaha<br />
183.	Soesilo Abadi Piliang – Padang, Kepala Desk/Redaktur<br />
184.	Soewardi Idris (alm) – Jakarta, mantan Penulis Tetap<br />
185.	Subandi – Koordinator Daerah Sawahlunto<br />
186.	Sudirman Limi – Jakarta, mantan Koresponden<br />
187.	Syafni – Pasaman, mantan Reproter<br />
188.	Syafri Piliang – Koordinator Daerah Dharmasraya<br />
189.	Syafri Syam – Pesisir Selatan, mantan Koresponden<br />
190.	Syafrizal – Padang, Redaktur<br />
191.	Syafrizal Tasir – Solok, mantan Reporter<br />
192.	Syafruddin AL/Ujang – mantan Redaktur Pelaksana, mantan<br />
Kepala Biro Redaksi Jakarta, kini Kepala Perwakilan `Riau Mandiri&#8217; di<br />
Jakarta<br />
193.	Syahruddin Said/Pak Indin (alm) – Payakumbuh, mantan Staf<br />
Redaksi dan Redaktur Pelaksana KMD Edisi Payakumbuh/50 Kota<br />
194.	Syamsoedarman Ps.Sy. – Padang, mantan Koresponden di<br />
Padangpanjang, kini Redaktur Pelaksana dan anggota Dewan Redaksi<br />
195.	Syawaldi – Padang, Reporter<br />
196.	Syofyan Kudan – Koordinator Daerah Kabupaten Solok<br />
197.	Syofyan Tanjung – Tanjung Pinang, mantan Reporter<br />
198.	Syofyardi Bakhyul – mantan Redaktur di KMS `Edisi ABH&#8217;<br />
199.	Syukri Nur – Sijunjung, mantan Reporter<br />
200.	Tamsir – Pak Tua yang dipanggil Bang Tamsir ini berawal dari<br />
bagian Rumahtangga dan Kebersihan, kemudian jadi orang pertama di<br />
Dokumentasi Redaksi yang kini jadi Perpusatakaan<br />
201.	Tan Syam – Pasaman, mantan Reporter<br />
202.	Tun Akhyar – mantan Redaktur, kini di `Riau Mandiri&#8217; Pekanbaru<br />
203.	Ujang Datuak – Padang, mantan Reporter<br />
204.	Wanef Latif – Lubuk Sikaping, mantan Reporter<br />
205.	Wannedi Saman – Koordinator Daerah Kota Solok<br />
206.	Wardas Tanjung – Padang, mantan Staf Redaksi<br />
207.	Widiat B Arta – Jakarta, mantan Koresponden<br />
208.	Widya Navies – Padang, mantan Sekretaris Redaksi, kini<br />
Redaktur Pelaksana dan anggota Dewan Redaksi<br />
209.	Wismar Atmaja/Wisja Sikumbang – mantan Reporter, kini di<br />
Jakarta<br />
210.	Wisran Hadi – Padang, mantan Redaktur<br />
211.	Yasrizal – Padang, Redaktur<br />
212.	Yenita – mantan Staf Redaksi, kini di Batam (istri Zul<br />
Effendi)<br />
213.	Yongki Salmeno – Padang, mantan Staf Redaksi<br />
214.	Yoserwan – Padang, mantan Reporter<br />
215.	Yosrizal – Padang, mantan Staf Redaksi<br />
216.	Yuharnida – Bukittinggi, mantan Kepala Tata Usaha dan<br />
Sirkulasi di Perwakilan Bukittinggi. Ketika masih aktif, banyak<br />
terkait dengan kegiatan wartawan sehari-hari. Maklum, tanggung jawab<br />
kantor<br />
217.	Yuhendra – Padang, Redaktur<br />
218.	Yulisman – Koordinator Daerah Pasaman Barat<br />
219.	Yun Chairul – Lubuk Sikaping, mantan Reporter; (kalau tak<br />
salah) pindah ke Jakarta, aktif di majalah Kinantan, jadi penulis<br />
buku, dan kabarnya sudah almarhum<br />
220.	Yuneldi Yunis – Bangko, mantan Koresponden<br />
221.	Yuniar – Padang, Reporter<br />
222.	Yurman Dahwat – Padang, mantan Kepala TU dan wartawan,<br />
terakhir di Canang<br />
223.	Yusman Mahyudin – Jakarta, Reporter<br />
224.	Yusril Ardanis Sirompak – mantan Staf Redaksi, kini<br />
Koresponden SCTV di Pekanbaru<br />
225.	Yusron Matondang (alm) – Padang, tugas pokoknya di<br />
Perwajahan, tapi juga jadi Reporter<br />
226.	Zaharuddin – Pariaman, mantan Reporter<br />
227.	Zainal Abidin/Zeta – Sicincin, mantan Reporter<br />
228.	Zainal Piliang – Palembang, mantan Reporter<br />
229.	Zal Mega – Padang, mantan Reporter<br />
230.	Zar Chaniago – Padang Panjang, mantan Reporter<br />
231.	Zoeltan/Zulfirman – sejak SMA di Bukittinggi aktif membantu<br />
Singgalang. Tamat, pindah ke Jakarta, berlabuh di berbagai media<br />
232.	Zul Effendi – mantan Koordinator Liputan, kini Pemred `Sijori<br />
Mandiri&#8217; Batam<br />
233.	Zul Koto – Padang, mantan Reporter<br />
234.	Zul Nazar – Solok, mantan Reporter<br />
235.	Zulharmans/Zulharman Said (alm) – mantan Penasehat dan<br />
Penasehat Ahli Singgalang, serta pemegang saham dan Pemred Harian<br />
Ekonomi `Neraca&#8217;, Jakarta<br />
236.	Zulkarnaini – Curup, Bengkulu, mantan Reporter<br />
237.	(Ada beberapa nama reporter/mantan reporter Singgalang di<br />
Jakarta dan berbagai daerah kabupaten/kota di Sumbar yang kebetulan –<br />
maaf sekali lagi – masih belum dapat saya ingat. Tolong yo, sanak!)</p>
<p>Nama-nama di bawah ini – dengan hormat dan mohon maaf – saya belum<br />
tahu pasti, apakah pernah di Singgalang atau baru bersama rekan-rekan<br />
ketika di Mimbar Minang. Nama-nama saya ambil dari catatan Eko Yanche<br />
ketika milis palanta ini pertama kali diluncurkan Budi Putra:</p>
<p>1.	Askar<br />
2.	Hendra Dupa<br />
3.	Israr<br />
4.	Joni Firdaus<br />
5.	Mairi Nandarson</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palantaveteran17.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palantaveteran17.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palantaveteran17.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palantaveteran17.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palantaveteran17.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palantaveteran17.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palantaveteran17.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palantaveteran17.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palantaveteran17.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palantaveteran17.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palantaveteran17.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palantaveteran17.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palantaveteran17.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palantaveteran17.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=8&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/11/indra-nara-persada-inilah-215-nama-rang-singgalang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2b598c5bd75a75a519f363983bef961?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Palanta Veteran17padang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Petikan Surek Eko Yanche Edrie (6/25/05 8:47 PM):</title>
		<link>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/10/petikan-surek-eko-yanche-edrie-62505-847-pm/</link>
		<comments>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/10/petikan-surek-eko-yanche-edrie-62505-847-pm/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 12:26:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Palanta Veteran17</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sakapua Siriah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://palantaveteran17.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Lah bara purnama awak indak basobok? Takadia Allah mambuak awak baserak serak antah kama-kama. Ambo hetong ciek-ciek; alfian zainal, asraferi sabri, awaluddin awe, afrimen, awkar, atviarni, budi putra, ben tanur, deni risman, dodi nurja, edi suardi, elvi susanti, fachrul rasyid, gusfen khairul, hardimen koto, hasrilchaniago, herlambang fajar, hendra dupa, ismet fanany, indra nara persada, imran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=3&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/11/eko.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-5" title="eko" src="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/11/eko.jpg?w=477" alt="eko"   /></a>&#8220;Lah bara purnama awak indak basobok? Takadia Allah mambuak awak baserak serak antah kama-kama. Ambo hetong ciek-ciek; alfian zainal, asraferi sabri, awaluddin awe, afrimen, awkar, atviarni, budi putra, ben tanur, deni risman, dodi nurja, edi suardi, elvi susanti, fachrul rasyid, gusfen khairul, hardimen koto, hasrilchaniago, herlambang fajar, hendra dupa, ismet fanany, indra nara persada, imran rusli, israr, joni firdaus, luzi diamanda, luna agustin, maifil ekaputra, muslih sayan, mursyid y Sonsang, rusdi bais, replianto, rina morita, syafruddin al, yusril ardanis, yongki salmeno, yoserwan, zul effendi. (ado ndak nan ambo lupo yo?) <span id="more-3"></span></em></p>
<p><em>Kasadao alahe, bamulo dari jalan veteran, lalu ka mimbar minang sudah tu kupak rarak. Tapi ambo picayo awak alah merdeka sa merdeka- merdekanyo kini. Maso lalu nan paik untung-untuang indah batambah paik. Baa gak ati? </em></p>
<p><em>Taragak lo awak jo dan nal tukang aia di singgalang atau lonte one (lontong sate one) atau indomi pakai pisau di mimbarminang, ah&#8230;.raso bamain kenangan tu. Pokoknya saluang sajolah nan kamanyampaian&#8230;. </em></p>
<p><em>Budi, thanks bantuan milis ko, yo.<br />
konco lamo<br />
(eko) </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/palantaveteran17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/palantaveteran17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/palantaveteran17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/palantaveteran17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/palantaveteran17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/palantaveteran17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/palantaveteran17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/palantaveteran17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/palantaveteran17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/palantaveteran17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/palantaveteran17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/palantaveteran17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/palantaveteran17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/palantaveteran17.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=palantaveteran17.wordpress.com&amp;blog=5467619&amp;post=3&amp;subd=palantaveteran17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://palantaveteran17.wordpress.com/2008/11/10/petikan-surek-eko-yanche-edrie-62505-847-pm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2b598c5bd75a75a519f363983bef961?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Palanta Veteran17padang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://palantaveteran17.files.wordpress.com/2008/11/eko.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">eko</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
