SAYA menjadi wartawan Harian Singgalang di awal tahun 1986. Waktu itu berstatus KL (baca: koresponden lepas) untuk wilayah Bukittinggi dan Agam. Saya berdomisili di Kota Wisata ini, karena saya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadyah.
Di masa itu, Harian Singgalang memiliki perwakilan di Bukittinggi. Ada empat orang wartawan Singgalang yang senior yang mengisi perwakilan. Namanya Nusjirwan Damhoeri, Has Ahmad, Hasril Chaniago dan Adeks Rossie Mukri. Keempatnya sudah karyawan tetap. Mereka menerima gaji tiap bulan meski kadang-kadang suka terlambat. Beda dengan saya yang berstatus KL. Pendapatan saya tergantung dari jumlah berita yang dimuat.
Karena jumlah berita sangat bersangkut dengan pendapatan, maka saya mesti rajin. Apa saja saya liput. Berita kelurahan, berita kriminal, kegiatan pemko, bencana longsor, berita olahraga, kebakaran, lomba fashion show, demo pedagang Pasar Atas, hingga peristiwa kecelakaan maut.
Dukungan para senior turut pula memacu pendapatan saya, terutama dorongan dari Nusjirwan Damhoeri dan Hasril Chaniago. Keduanya sering membawa saya pergi meliput. Pulangnya, saya yang disuruh menulis berita. Imbalannya, di bagian bawah berita itu, saya tuliskan inisial nama saya, berdua dengan inisal sang senior tadi.
Apa senior itu mendapat amplop? Tidak tahu saya. Tidak nampak oleh saya orang memberikan amplop. Cuma, karena dia sudah senior, banyak temannya di tempat acara itu yang menyapa. Berbincang-bincang. Mengajak makan. Ada pula yang menyuruh senior ini datang ke kantor. Kalau sudah acara yang demikian, saya tidak dibawanya ikut.
Yang jelas, kolaborasi saya dengan para senior itu, tentu saja saling menguntungkan. Saya mendapat honor. Sedangkan bagi senior tadi juga ada keuntungannya. Seusai acara, dia sudah bisa pulang ke rumah, atau pergi bermain kartu ke Kantor PWI di dekat Lapangan Kantin. Dia tidak lagi repot menulis berita. Tidak memikirkan cetak foto. Tidak pula harus pontang-panting ke kantor wartel untuk mengirimkan faximili. Semua kerepotan itu, sayalah yang melakoni.
Dengan pola senior-yunior tadi itu, honor berita yang saya terima tiap bulan, menjadi cukup banyak. Harga tiap satu berita pada waktu itu Rp2.500. Kalau jadi headline, harga berita bisa meningkat menjadi Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Dulu, harga berita yang terbit di halaman satu, nilai rupiahnya agak berlebih sedikit dibandingkan dengan berita yang terbit di halaman dalam. Saya tidak tahu sekarang.
Jadi, dengan cara seperti itulah saya belajar. Saya mengasah pisau kewartawanan saya. Menimba ilmu dari para senior. Banyak kekeliruan saya yang diluruskan oleh senior ini, terutama oleh Hasril Chaniago.
Kehebatan Hasril Chaniago adalah berbahasa. Dalam menulis berita, dia mahir memilih kata. Cakap menggunakan prinsip ekonomi kata. Saya senang membaca berita-berita yang ditulis Hasril Chaniago. Rasanya, saya mewarisi sebagian dari kemahirannya itu. Dan itulah yang menjadi modal saya di kemudian hari, ketika saya melamar menjadi Koresponden RCTI untuk Sumatera Barat.
Kembali kepada cerita Bukittinggi. Pada kesempatan berbincang-bincang di Kantor Perwakilan, Jl. Ahmad Yani, seringkali Uda Nusjirwan Damhoeri, Has Ahmad, Hasril Chaniago, dan Adek Rossie memberikan kritik atas penulisan berita saya. ”Jan pidato urang se nan disalin, korek sia urang itu.Bilo paralu acara nan talambek mulai, itu jadikan berita,” kata Nusjirwan Damhoeri suatu ketika. Para senior itu juga tidak sungkan untuk membagi ilmu tentang etika dan kiat berwawancara.
Dari pengalaman di Bukittinggi itu, yang ingin saya katakan, bahwa pola senior-yunior yang familiar, mendidik dan membagi ilmu, itulah yang sesungguhnya menjadi pola regenerasi di Harian Singgalang. Konon kabarnya pola senior-yunior yang mendidik itu telah dimulai sejak Harian Singgalang didirikan 40 tahun lalu.
Akhir-akhir ini, saya termasuk jarang bertandang ke Harian Singgalang. Saya tidak berani menjamin, apakah pola senior-yunior yang seperti saya alami itu, masih ada sekarang atau tidak di tubuh surat kabar yang saya cintai ini. Saya masih berharap, suasana senior-yunior itu tetap tumbuh dan menjadi ritme alih generasi.
Sebab, sekarang pola senior-yunior masih tetap dipakai oleh banyak perusahaan, termasuk perusahaan pers. Tetapi maknanya lebih kepada suasana atasan dan bawahan, bukan kakak-adik, bukan guru-murid, dan bukan pula teman diskusi.
Dengan pola atasan-bawahan jelas tidak akan tercipta transfer keterampilan, tidak muncul suasana berbagi keilmuan, serta tidak tercermin ketauladanan dalam pergaulan.
[***]
Tahun 1989, saya menjadi karyawan di Harian Singgalang. Cepatnya saya diangkat menjadi karyawan tidak terlepas dari peran Syafrial Arifin alias Uda Cap. Sebagai Redaktur Pelaksana, Syafrial Arifin ”memaksa” perusahaan untuk segera mengangkat saya, dengan alasan seolah-olah jajaran redaksi kekurangan SDM untuk menangani rubrik generasi muda dan edisi minggu.
Syafrial Arifin mengajarkan banyak hal kepada jajaran redaksi pada waktu itu. Salah satunya, terbitkan feature di halaman satu, setiap hari. Sentuh hal-hal yang humanis. Angkat tentang keseharian masyarakat. Banyak liputan feature yang sukses pada waktu itu. Tentang nasib koperasi, tentang air PDAM, tentang burung berkicau, tentang budaya bersyafar, tentang tradisi kawin berjeput, termasuk tentang pergaulan muda-mudi ‘basicontiak’. Masih banyak feature yang lain.
Ternyata benar. Liputan feature di halaman satu Harian Singgalang mendapat respon dari masyarakat pembaca. Hal itu terbukti dari surat pembaca dan telepon yang masuk ke redaksi.
Saya mendapat pengalaman berharga dengan kehadiran Syafrial Arifin di Harian Singgalang. Selain diangkat menjadi karyawan, saya menimba ilmu menulis feature dari orang yang tepat; berjiwa ngemong dan memiliki kemampuan yang lebih dari cukup.
Ada tokoh selain Syafrial Arifin yang pantas saya catat dalam karir kewartawanan saya di Harian Singgalang. Namanya Fachrul Rasyid. Jujur saja, ada beberapa orang yang hanya mengiya-iyakan saja ucapan FR. Supaya FR senang dan terus mengumbar ceritanya. Tetapi, saya tidak. Saya mengagumi beberapa hal dari FR, yaitu; beritanya komplit. Bernas. Ia tidak mau membuat berita yang asal jadi.
Kalau nara sumber tidak lengkap dan bukti-bukti tidak kuat, ya sebaiknya berita itu dijauhkan dari Fachrul Rasyid. Kalau sampai ke tangannya, wartawan yang menulis berita itu akan ditatar habis-habisan. Salah satu cara FR mengajari wartawan yang beritanya ”bermasalah” adalah dengan memberi contoh dari berita-beritanya sendiri. Kalau dapat penataran dari FR, bisa menghabiskan waktu hingga satu jam.
Bagi yang mendengarnya pertama kali tentu merupakan ilmu yang berharga. Tetapi kalau sudah berkali-kali, rasanya bosan juga. Tetapi FR tidak peduli. Ia akan tetap memuntahkan semua ilmunya, semua pengalamannya kepada wartawan yang dianggapnya memerlukan. Menurut saya, seorang wartawan pemula sebaiknya kenal terlebih dahulu dengan Fachrul Rasyid, untuk memantapkan dasar-dasar jurnalistiknya.
[***]
Pengalaman jurnalistik selama delapan tahun di Harian Singgalang, 1986-1994, telah mengantarkan saya menjadi seorang wartawan yang penuh warna. Dari Hasril Chaniago saya mendapatkan ilmu pilihan kata, ekonomi kata, termasuk penggunaan ejaan yang benar. Hasilnya, saya rasakan manfaatnya dalam keseharian saya sebagai seorang wartawan televisi.
Dari Syafrial Arifin, saya menimba kepiawaiannya dalam menulis feature. Sekarang saya sadari, dia memang gurunya feature. Kemudian Syafrial Arifin mengajarkan kepada awak Harian Singgalang, agar menuliskan jati diri nara sumber di dalam bagian-bagian berita, misalnya umur, suami, pendidikan atau pun negeri asal. Pola ini di belakangan hari menjadi trend dalam penulisan berita.
Dari Fachrul Rasyid mengajarkan taat azas pada deadline. Berita mesti dengan nara sumber yang relevan dan bukti atau fakta yang kuat. Jika tidak, FR pasti akan mincaracau sepanjang-panjangnya. Pendek kata, era investigasi report dalam pemberitaan di Harian Singgalang pada zaman itu dipelopori oleh Fachrul Rasyid.
Saya termasuk beruntung, karena bertahun-tahun bekerja bersama dengan ketiga orang ini; Hasril Chaniago, Fachrul Rasyid dan Syafrial Arifin. Saya menganalogikan ketiganya adalah jambu, kedondong dan bengkoang. Ya, ketiganya jika dicampur akan menghasilkan rujak yang enak. Saya menamakannya ’Rujak Singgalang’.
Selamat ulang tahun ke-40 Harian Singgalang. Meski ketiga orang ini; Hasril, Fachrul dan Syafrial, tidak lagi di Veteran 17, mudah-mudahan Uda Basril Djabar masih tetap memiliki ’Rujak Singgalang’ dengan rasa yang berbeda. ***
Gusfen Khairul (Wartawan Singgalang, 1986-1994)