Ketika lima tahun yang silam saya memulai membangun miling list (milis) di internet untuk keperluan `taragak basuo’ dengan para alumni wartawan Singgalang, saya tidak membayangkan bahwa milis itu akhirnya akan menjadi besar dan terus tumbuh. Awalnya saya ikuti sejumlah komunitas milis di internet terutama komunitas jurnalisme yang diprakarsai mantan wartawan Tempo dan Republika, Farid Gaban.
Lalu saya pikir kenapa tidak membuat milis sendiri yang dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dengan para alumni Singgalang saja. Saya lalu ketemu Budi Putra, alumni Singgalang yang bersama saya pernah mengelola koran online pertama di Sumatra, Ekuator. Ketemunya juga di internet. Saya bilang ke Budi, bagaimana kalau dibuatkan milis untuk kita. Kita di sini maksudnya adalah kelompok Eksis Komunika. Oh ya, selepas `diwisuda’ oleh Da Bas menjadi alumni Singgalang tahun 1998 kami hanya merasa sekedar lepas dari pekerjaan rutin di bawah pimpinan Da Bas, bukan merasa silaturahmi juga harus lepas. Buktinya tiap hari kami masih main ke Jl Veteran, tempat koran ini bermarkas. Tidak ada yang canggung. Yang canggung justru mereka yang `belum tamat’ alias teman-teman yang tetap bertahan. Oleh karena itu juga menurut kami nama Singgalang masih `perlu’ dijual dalam komunitas ini. Desember 1998 terbentuklah Eksis Komunika itu yang merupakan singkatan dari Eks Singgalang Sehati Berkomunikasi. Dari Eksis Komunika itu lahir banyak pekerjaan. Bikin koran online, bikin koran dengan label koperasi (pertama di Indonesia) bikin penerbit buku, bikin perusahaan rekaman, bikin perusahaan IT, bikin web untuk sejumlah Pemda dan perusahaan di Sumatra Barat, bikin even organizer, bikin jejaring UKM se Indonesia, bikin kebun kopi, bikin usaha sayur organik, bikin perusahaan desain grafis, bikin jasa konsultan media, bikin kantor hukum.
Akhirnya memang berbalik ke modal jua. Dari banyak ragam yang kami bikin ada yang sukses ada yang gagal. Tapi percayalah bahwa semua pernah menikmati hasilnya.
Menurut saya semua itu tidak bisa terjadi kalau kami tidak pernah mengenyam `akademi singgalang’. Di situ diajarkan `cara menjadi orang’. Kalau cara menulis berita itu sudah pasti, tapi ada pengajaran cara mencari berita, cara berbicara dan cara diam, cara bersopan santun dan cara bercarut, cara tersenyum dan memukul meja. Dan yang lebih penting adalah `cara hidup’ dan cara membina harga diri sebagaimana mottonya.
***
Maka ketika Budi menekan tombol oke pada kompternya saat saya minta dia bikinkan sebuah milis untuk Eksis Komunika, saya gembira. Besoknya saya diberitahu Budi bahwa milis itu sudah jadi, silahkan simak di http://groups.yahoo.com/group/palanta
Agar milis itu segera diakses kawan-kawan, saya lalu pakai jalur cepat dengan SMS ke semua mantan wartawan Singgalang. Akhirnya meledaklah. Kini tiap hari ada saja yang `digunjingkan’ dalam milis itu. Tak ada yang mencoba-coba menjelek-jelekkan Singgalang. Sebaliknya, para anggota milis yang menyebut dirinya `vetaran jalan vetaran’ malah menjadi corong publikasi (nah yang ini mestinya Da Bas bayar dong..he he he)
Setelah sepuluh tahun berlalu silaturahmi tak berubah, Ada satu hal yang senantiasa membuhul kami yakni: kegilaan. Saya senantiasa teringat petuah Da Bas, bahwa semua kita harus jadi `urang gilo’. Pada masa-masa sulit Singgalang, kata itu terus ditekankan Da Bas. Semua harus membuat apa saja yang bisa dibuat untuk membangun satu generasi yang hebat di Singgalang, Ketika itu tidak ada kata `oh jangan’ dari Da Bas bila ada yang mengusulkan hal-hal an usual. Da Bas pasti tahu bahwa nanti hasilnya akan baik-baik saja dan membawa manfaat untuk Singgalang. Lalu ia mendorong dari belakang.
Entah bagaimana, para `wisudawan/ti’ yang jumlahnya kini mencapai 57 orang (menurut statistik yang dibuat oleh Indra Nara Persada) memasuki dunia lebar juga dengan semangat kegilaan yang ditularkan dari Da Bas itu. Mereka bertebaran di hampir sekerat Indonesia bagian Barat ini. Zul Effendi di Sijori Mandiri Batam, Tun Akhyar di Riau Mandiri Pekanbaru, Afrimen di Dumai, Luna Agustin di Riau TV, Luzi Diamanda di Pekanbaru, Hary B Koriun di Riau Pos, Yusril Ardanis Sirompak di SCTV, Mursyid Sonsang di RCTI bersama istrinya Asnelly R Daulay, Replianto di RCTI Bangka Belitung, Afdhal di Transparan Palembang, Marjeni Rokcalva penah di Metro TV Bengkulu, Gusfen Khairul di RCTI, Deni Risman di SCTV, Hardimen Koto jadi komentator sepakbola, Zoelthan di Harian Olahraga Topskor, Budi Putra dari Tempo ke Blogger Asia begitu juga Maifil Eka Putra selepas dari Majalah Ummat mendirikan perusahaan IT, Herlambang Fajar memenej media online di Bandung, Indra Nara Persada di Jakarta, Saya, Rusdi Bais dan Ismet Fanany di Haluan sambil mengurusi pertanian organik dan peternakan sapi. Hasril Chaniago pernah jadi Anggota Panwaslu Sumbar dan menekuni juga bisnis peternakan dan pertanian besar, Imran Rusli di Padangmedia.com bersama Atviarni, Adeks Rosy Moekri Yongki Salmeno selepas dari Kompas memilih jadi peternak sambil jadi konsultan media, Indra Sakti Nauli berkelana dari Pekanbaru, Batam, Bengkulu dan kini kembali ke Padang. Sekedar menyebut yang lain adalah Sjafrial Arifin masih menekuni dunia sinetron, Abrar Yusra masih tekun menulis, Asril Joni jadi dosen, Bachrum Rony Arifin di Jakarta, Kardinal Munir dan Akmal Darwis memilih jadi pengusaha, Rina Morita, Eki Hari Purnama, Yoserwan, Afrinal Aliman memilih jalur PNS. Yang lain? Sebut saja Masful, Alirman Sori yang berada di jalur politik. Termasuk Asraferi Sabri yang akhirnya mencoba pula tantangan baru: jadi Wali Nagari! Padahal dulu dia paling memedulikan bahasa jurnalistik dan bahasa Singgalang. Sedangkan Fachrul Rasyid, mantan Koordinator Reportase yang bergabung ke Tempo dan Gatra, kini menekuni dunianya: jadi kolomnis. Jangan harapkan pujian darinya, karena dia sangat pelit dengan pujian!
Kenapa bisa sekomplit itu? Inilah yang saya sebut `akademi singgalang’ dimana manusia mencetak dirinya sendiri untuk digunakan secara bersama-sama dan didorong dengan iklim afklarung yang kondusif dari para pimpinan Singgalang sejak tiga dasawarsa lalu. Jadi selama tiga dasawarsa secara tidak sadar Da Bas mencetak `orang-orang gila’ yang kemudian mengerjakan hal-hal gila yang penuh tantangan serta memacu andrenalin. Orang-orang dibiarkan dan `dilapangkan jalan’ untuk membangun kreatifitas. Sehingga memberi judul berita pun dulu sambil bercanda-canda saja.
Saya teringat ketika pagi-pagi bersama Indra Nara Persada dimarahi Da Bas tentang sebuah judul : `Konglomerat Rakyat Lahir dari Bukittinggi’ Da Bas bercarut: “Berita buah baju!” (buah baju adalah idiom ciptaan Pak Navis untuk bercarut) Da Bas murka benar pagi itu sehingga tak disadarinya tangannya kesakitan karena memukul-mukul meja. Saya dan Indra Nara Persada memberi penjelasan bahwa judul itu dibuat bersama-sama semalam. Yang menulis berita adalah Wardas Tanjung, tapi isinya ditukangi oleh Hasril Chaniago. Tapi Da Bas tak mau terima, pokoknya ini `berita buah baju!’
Saya akhirnya paham bahwa yang dikehendaki Da Bas jadi headline adalah pernyataan Sri Edie Swasono. Tapi ketika itu berita Mas Edi hanya termuat tiga kolom saja dan tidak menonjol benar. Waktu kemudian bergulir bersama gelak tawa di lantai III.
Bulan Agustus pagi-pagi saya dan Inpers (Indra Nara Persada) sarapan lagi di kedai Pak Kayo makan lonte alias lontong sate. Slamet –dia Satpam yang merangkap sopir—memanggil : “Pak Bas suruh ke ruangannya”
Di ruangannya, Da Bas sudah duduk di meja mundarnya sambil memilin-milin rokok. Lalu dengan gaya teateris dia berkata: “Surprise…surprise” (kalau tidak salah sampai empat kali). Biasalah, Inpers orangnya selengekan. “Apo lo tu surprise Da?” Tak lama kemudian Da Bas menyorongkan faksimili. Faks itu dari Departemen Penerangan, sebuah departemen yang sangat ditakuti pers waktu itu. Isinya: Singgalang dinyatakan sebagai penerima anugerah Kalam Kencana dari Presiden. Ini anugerah bergengsi untuk media waktu itu. Da Bas berkaca-kaca matanya, beberapa orang awak redaksi yang sudah datang kemudian memadati ruang kerja Pemimpin Umum itu. Kami bersalaman. Hening, hanap!
Saya tak tahan untuk tidak berkomentar. “Da, nan dapek hadiah tu kan berita buah baju dulu, Da?” Maka tak ayal semuanya tertawa terbahak-bahak. No Comment. Berita yang mendapat anugerah presiden itu berita yang dua bulan sebelumnya adalah berita yang dimaki-maki Da Bas itu!
Ada banyak fragmen-fragmen yang memberi denyut dan memperlihat keberhasilan akademi singgalang memompa adrenalin segenap wartawannya. Yongki Salmeno pernah membuat Da Bas `tararau’ ketika lewat Da Bas diberitahu oleh orang Setneg bahwa Singgalang melalui Yongki Salmeno akan menerima anugerah lingkungan hidup di Istana Negara dari Pak Harto.
Sejak itu sejumlah prestasi ditorehkan. Semua diminta membuat prestasi masing-masing. Semua diminta memberikan catatan pada buku sejarah Singgalang. Hasril dikenal dengan prakarsa pariwaranya. Tahun 1990an koran daerah belum mengenal pariwara. HC memperkenalkan, sejak itu pariwara menular ke mana-mana. Perencanaan dan evaluasi serta rapor wartawan diperkenalkan Fachrul Rasyid. Menulis feature yang hebat diajarkan oleh peraih anugerah kritik film FFI, Sjafrial Arifin. Melihat berita yang bisa `dijual’ diinspirasikan oleh Akmal Darwis. Membaca politik bawah tanah, Da Yonda Djabar memberi petuah. Melihat bisnis? Ya siapa lagi kalau bukan Da Bas. Politik lokal dan kebudayaan kami terima pengajarannya dari Bang Chairul Harun. Ia juga yang mencetuskan Koran Masuk Sekolah pertama di Indonesia.
Singgalang sangat care dengan Iptek, maka Indra Nara Persada menghabiskan banyak waktu untuk memberi penekanan soal itu. Abrar Yusra dan Asraferi Sabri tentu saja mengilhami para wartawan muda Singgalang waktu itu untuk terus menulis dengan jurnalisme sastrawi. Hardimen Koto `menghajar’ Tun Akhyar, Luna Agustin dan Yosrizal bagaimana `mendendangkan’ orang kalah bertarung atau `meratapi’ sebuah kemenangan pertandingan bola. Urusan berpacu dengan info kriminal, Ben Tanur waktu itu tak ada duanya. Gufen Khairul mengurusi dunia entertainmen, sedang Budi Putra amat piawai dalam hal IT.
***
Kali yang lain datanglah seseorang `mangapik kepala harimau’ Dia menyodorkan relis berita kepada Da Yonda Djabar. Isinya ada kelompok yang mengusulkan Marizal Umar (kini sudah almarhum) menjadi Bupati Pesisir Selatan. Waktu itu suara main stream adalah untuk Masdar Saisa. Dan agak susah membendung Masdar. Karena itu, Hardimen Koto yang ditugasi mengedit relis itu jadi berita dengan ogah-ogahan menerima tugas dari Da Yonda. Besoknya Marizal Umar komplain ke Da Yonda karena merasa tak puas dengan berita itu. Padahal dari sisi jurnalistik berita itu sudah tak ada masalah, 5 W 1 H sudah lengkap. Keterangan Marizal dan organisasi pengusulnya juga sudah ada. Yang jadi soal bagi Marizal hanya judulnya saja. Saya tidak ingat siapa yang menulis judul itu: Ada Pula yang Mengusulkan Marizal Umar Jadi Bupati Pessel. Tak ada yang salah dari judul itu sebenarnya, baik dari sisi etimologi, linguistik dan ejaan. Hanya saja Singgalang mencoba mempersilahkan kepada pembacanya menilai sendiri.
***
Maka tercatatlah dalam sejarah Kasus Sabri Zakaria. Saya berpendapat itu pantas ditulis jadi sebuah buku. Pada saat itu sebuah koran bernama Singgalang mencoba menegakkan yang dia yakini benar, tetapi entah bagaimana koran-koran lain kehilangan kesetiakawanan. Semua mengeroyok Singgalang. Seingat saya hanya Harian Pelita dan Kompas saja yang tidak ikut mengeroyok Singgalang sambil bernyanyi-nyanyi. Ketika itu solidaritas pers benar-benar sudah hancur total sampai ke titik nadir. Saya dan semua kawan di Singgalang menangis. Kami tahu siapa-siapa saja wartawan yang mengeroyok kami.
Kasus yang terus menerus dilarikan ke arah `hotel pangeran’ tak pernah tuntas. Padahal substansinya secara jurnalistik bukan `insiden pangeran’ melainkan seseorang menuntut seseorang. Tapi keroyokan yang sudah tidak menggunakan akal sehat membuat pertahanan Singgalang juga lumpuh. Kami berpikir, sudahlah, hentikan sajalah. Tak ada pula hebatnya membongkar kasus itu. Cukup Tuhan saja yang tahu. Toh akhirnya kawan-kawan yang mengeroyok itu adalah kawan-kawan kita juga.
Karena saya sebut sejarah pers, maka peristiwa itu dikemudian hari hendaklah jadi catatan paling kelam dari sejarah pers Sumatra Barat. Jangan diperkecil sejarahnya menjadi sejarah Singgalang tetapi harus menjadi sejarah pers Sumatra Barat kalau perlu menjadi sejarah pers nasional.
***
Kini 40 tahun sejak `proklamasi 18 desember’ buku catatan sejarah Singgalang tentu sudah cukup tebal. Saya tidak ingin menanyakan apakah genarasi Singgalang yang sekarang masih `gila’ atau sudah `waras’? Karena itu bukan sebuah pertanyaan yang bermutu. Sebab tiap generasi memiliki sejarahnya sendiri.
Tetapi paling tidak yang ingin saya katakan jangan ada tali halus yang putus sejak 18 Desember 1968 hingga kapanpun. Generasi boleh berganti, tetapi yang satu itu tetap bisa dijadikan titik tempat semua generasi menyamakan pandangan. Apa itu? Saya juga tidak bisa menjawab dengan kalimat yang tapat dan persis. Biarlah masing-masing kita melihat dan merasakannya sendiri-sendiri. Selamat Ulang Tahun, bikinlah `buah baju’ yang santiang.