Menjadi wartawan Singgalang bagiku adalah sebuah kebanggaan. Aku masuk Singgalang 1993, tepatnya ketika aku mulai menginjakan kaki di bangku kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang. Sebagai mahasiswa aku dituntut mengekspresi diri dengan menulis, selain itu menulis sudah menjadi hobi dari masa SLTP.
Aku masih teringat di masa SLTP itu aku diajari pamanku untuk menulis diary guna mengevaluasi seluruh kegiatan harian. Dan semasa sekolah di SMA 5 Padang aku aktif dikegiatan mading sekolah dan mencoba menuliskan laporan kegiatan sekolah untuk DSKS Surat Kabar Mingguan Canang.
Ketika suatu kali aku bertemu dengan bapakku Adi Bermasa –kupanggil bapak karena beliau dulu pernah sama-sama sekolah PGA & IAIN bersama dengan ayahku– , yang kemudian melihat kliping laporan-laporanku di Canang. Waktu itu Pak Adi yang akrab dipanggil Mak Abe itu menjadi Redaktur Pelaksana di Harian Singgalang merekomendasikan aku untuk menulis di Koran Masuk Sekolah (KMS) edisi khusus Singgalang untuk anak-anak sekolah.
SAYA menjadi wartawan Harian Singgalang di awal tahun 1986. Waktu itu berstatus KL (baca: koresponden lepas) untuk wilayah Bukittinggi dan Agam. Saya berdomisili di Kota Wisata ini, karena saya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadyah.
Selasa pagi 14 Maret 1982 persis tiga hari setelah hari pernikahanku. Setahun tiga bulan aku jadi koresponden Majalah Berita TEMPO. Atau dua bulan setengah setelah Mingguan berubah jadi Harian Singgalang. Aku datang ke Kantor Harian Singgalang di Jalan Veteran Nomor 17 Padang.
Ketika lima tahun yang silam saya memulai membangun miling list (milis) di internet untuk keperluan `taragak basuo’ dengan para alumni wartawan Singgalang, saya tidak membayangkan bahwa milis itu akhirnya akan menjadi besar dan terus tumbuh. Awalnya saya ikuti sejumlah komunitas milis di internet terutama komunitas jurnalisme yang diprakarsai mantan wartawan Tempo dan Republika, Farid Gaban.